Refleksi Nikmat Kemerdekaan

Refleksi Nikmat Kemerdekaan…

Kemerdekaan adalah salah satu nikmat Allah Ta’ala yang agung dan harus disyukuri.
Karena dengannya warga negara yang berada di negara itu bisa leluasa untuk beribadah kepada Allah sesuai dengan syariat yang benar.

Namun ia tetap berada pada satu urutan di bawah ni’mat termahal, yakni ni’mat keimanan. Sebagaimana ni’mat-ni’mat lainnya Allah memerintahkan kita untuk mensyukurinya. Sebab mensyukuri ni’mat akan menghasilkan pelipatgandaan ni’mat itu sendiri. Sedangkan kufur ni’mat akan menyebabkan ni’mat itu berubah menjadi sumber bencana bahkan azab.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)

Syukur ni’mat yang paling utama adalah,
استعمال النعمة في الطاعة لزيادة النعمة
“memanfaatkan ni’mat di jalan ketaatan sehingga ni’mat tersebut bertambah.”

Dan Kemerdekaan memiliki beragam makna.
Proklamasi 17 Agustus 1945 yang dibacakan Soekarno tidak secara eksplisit menerangkan apa makna kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Ketika Soekarno menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia, tentu yang dimaksudnya adalah kemerdekaan Indonesia dari penindasan dan penjajahan kaum penjajah.
Dalam UUD 1945 ditegaskan bahwa kemerdekaan adalah pintu gerbang menuju cita-cita kebangsaan dan keindonesiaan yang sejati. Dari sini, kita bangsa Indonesia dituntut menjadi seseorang yang dapat mengharumkan bangsa melalui prestasi dan cita-cita yang tinggi.

Sedangkan arti kemerdekaan menurut Islam sebagaiman disebutkan dalam Al-Quran ditunjukkan berbagai kisah kemerdekaan orang-orang terdahulu yang dapat menginspirasi kita sebagai bangsa Indonesia yang telah merdeka.

Pertama, makna kemerdekaan dapat diambil dari kisah Nabi Ibrahim عليه السلام ketia ia membebaskan dirinya dari kehidupan bangsanya yang sesat. Dalam Surat Al-An`am ayat 76-79 dikisahkan perjalanan spiritual Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan.
Pencarian spiritual tersebut merupakan upaya Nabi Ibrahim dalam membebaskan hidupnya dari orientasi hidup yang diyakininya keliru, namun hidup subur dalam masyarakatnya.

Kedua, makna kemerdekaan juga dapat dipetik dari kisah Nabi Musa عليه السلام ketika membebaskan bangsanya dari penindasan Firaun. Kekejaman rezim Firaun terhadap bangsa Bani Israil dikisahkan dalam berbagai ayat Al-Quran. Rezim Firaun merupakan representasi komunitas yang menyombongkan diri dan sok berkuasa di muka bumi.
Keangkuhan rezim penguasa ini membuat mereka tak segan membunuh dan memperbudak kaum laki-laki Bani Israil dan menistakan kaum perempuannya. Keangkuhan inilah yang mendorong Nabi Musa tergerak memimpin bangsanya memperoleh kembali kemuliaan dan martabatnya sebagai manusia. Hal tersebut seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-A`raf: ayat 127, Al-Baqarah: ayat 49, dan Ibrahim: ayat 6.

Ketiga, kisah sukses Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dalam mengemban Risalah di muka bumi.
Allah berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (Al-Maidah: 3).

Allah telah menjadikan manusia sebagai makhluk yang mulia dan utama, hal ini disebutkan dalam Al-Quran,
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”(Al-Isra: 70.)

Ketika mereka merdeka berarti mereka sudah menemukan kembali kemuliaannya.

Sehingga merdeka itu menjadikan manusia kembali kepada tauhid; memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala, dan membebaskan diri dari semua bentuk penghambaan kepada selain-Nya.

Kemudian merdeka itu menjadikan mereka meneladani sunnah; dan mencontoh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam setiap amalan, dan melepaskan diri dari belenggu taklid buta dan fanatisme golongan (hizbiyyah).

Dan akhirnya merdeka itu membawa kepada ketakwaan kepada Allah dan menyelamatkan diri dari penjara hawa nafsu dan perbudakan setan.
Semoga bermanfaat.

Dirangkum dari berbagai sumber.

Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *