Menyambut Bulan Ramadhan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، اِفْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامُهُ، تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَ يُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ، وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ، فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا قَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan puasa atas kalian di dalamnya. Pada bulan itu dibuka pintu-pintu Surga, ditutup pintu-pintu Neraka dan dibelenggu setan-setan. Pada bulan itu terdapat sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tercegah dari kebaikannya, maka sungguh dia tercegah untuk mendapatkannya.” (Shahih: HR. Ahmad (II/230, an-Nasa’i (IV/129), dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Tamamul Minnah (hlm. 395)).

Mengenai penamaan bulan ini dengan nama Ramadhan (رَمَضَانَ), para ulama berbeda pendapat mengenai (dasar) penamaannya. Dari perspektif maknawi, ada pendapat yang menyatakan bahwa dinamakan Ramadhan (رَمَضَانَ) karena تُرْمَضُ فِيْهِ الذُنُوْبُ, “pada bulan ini dosa-dosa (manusia) dibakar.” Atau الرَّمْضَاءُ شِدَّةُ الْحُرِّ, ar-ramdhaa’ yang maknanya panas membara. (Fat-hul Baari (IV/113)).

Pendapat lain menyatakan bahwa dinamakan Ramadhan karena orang-orang Arab ketika mentransfer nama-nama bulan dari bahasa kuno, mereka menamakan bulan-bulan itu berdasarkan realita dan kondisi yang terjadi di zaman itu. Lalu secara kebetulan bulan ini jatuh tepat pada cuaca yang panas membakar, maka dinamakan bulan ini dengan nama Ramadhan. (Ash-Shihhaah (III/1081), karya al-Jauhari, dengan sedikit perubahan. Lihat juga Mukhtaarush Shihhaah (hlm. 115), karya Muhammad bin Abi Bakr bin ‘Abdul Qadir ar-Razi).

KEBERKAHAN BULAN RAMADHAN

Bulan Ramadhan adalah bulan yang memiliki banyak keberkahan, keutamaan dan berbagai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya. Diantaranya: (Lihat at-Tabarruk ‘Anwaa-uhu wa Ahkamuhu (hlm. 135-138), dengan sedikit perubahan).

Pertama, berpuasa di bulan Ramadhan adalah penyebab terampuninya dosa-dosa dan terhapusnya berbagai kesalahan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena keimanan (kepada Allah) dan mengharapkan pahala (dari Allah ‘Azza wa Jalla), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 1901) dan Muslim (no. 760), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرَ.

“Shalat fardhu lima waktu, shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antara masa tersebut seandainya dosa-dosa besar dijauhkannya.” (Shahih: HR. Muslim (no. 233(16)) dan Ahmad (II/400)).

Kedua, pada bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar.

Ketiga, terdapat banyak hadits lain yang menjelaskan keutamaan dan keistimewaan bulan yang barokah ini, diantaranya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَ غُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ.

“Apabila Ramadhan datang maka pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 1898) dan Muslim (no. 1079)).

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ جَاءَ كُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ.

“Telah datang kepadamu Ramadhan, bulan penuh barakah.” (Shahih: HR. Ahmad (II/230) dan an-Nasa’i (IV/129), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu).

Keempat, di antara keberkahan bulan ini adalah kaum Muslimin dapat meraih banyak keutamaan dan manfaat puasa yang bersifat ukhrawi maupun duniawi, di antaranya:

  1. Meraih ketakwaan

Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa berfirman,

يَآيُّهَا الذِّيْنَ ءَامَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَأمُ كَمَا كُتِبَ عَلَي الذّيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ. <183>

Wahai orang-orang yang beriman ! diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

  1. Pelipatgandaan pahala

Dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ: الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعفٍ، قَالَ اللهُ عَزَّوجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِيْ.

“Setiap amal yang dilakukan anak Adam akan dilipatgandakan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 sampai 700 kali lipat. Allah ‘azza w jalla berfirman, ‘Kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan memberi ganjarannya (balasannya). Orang yang berpuasa meninggalkan syahwat dan makan demi Aku semata.’” (Shahih: HR. Muslim (no. 1511 (164)).

Imam an-Nawawi rahimahullaahu berkata, “Firman Allah ‘azza wa jalla: ‘Dan Aku-lah yang memberi ganjarannya,’ adalah penjelasan nyata tentang kebesaran karunia Allah dan melimpahnya balasan pahala-Nya karena sesungguhnya orang yang mulia dan dermawan jika mengabarkan bahwa dia sendiri yang akan menanggung balasannya, ini menunjukkan betapa luas pemberian yang diberikannya.” (Syarh Shahiih Muslim (VIII/29)).

  1. Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih baik di sisi Allah Ta’ala daripada wangi minyak kesturi

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ. لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ.

“Demi Rabb yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aroma mulut orang berpuasa itu lebih baik di sisi Allah daripada aroma misk (kesturi).” (Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 1904) dan Muslim (no. 1151 (163)), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu).

  1. Mendapatkan dua kebahagian

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا : إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ.

“Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kegembiraan dimana ia berbahagia karenanya, yaitu ketika berbuka (puasa) ia pun bergembira dan ketika ia berjumpa dengan Rabb-nya ia pun bergembira dengan puasanya itu.” (Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 1904) dan Muslim (no. 1151 (163)), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu).

  1. Memasuki Surga melalui pintu khusus bernama ar-Rayyaan

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama, beliau bersabda,

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ القِيَامَةِ، لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ.

“Sesunguhnya di Surga ada sebuah pintu yang disebut ar-Rayyaan. Pada hari Kiamat nanti orang-orang yang suka berpuasa akan masuk Surga lewat pintu itu. Tidak ada seorang pun selain mereka yang diperkenankan (untuk masuk Surga) lewat pintu itu.” (Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 1896) dan Muslim (no. 1152), dari Shahabat Sahl bin Sa’d radhiyallaahu ‘anhu).

Dikutip dari buku Ritual Sunnah setahun karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *