Jangan Hujat Pemimpin kalian

Rasulullah dan para Sahabatnya melarang kaum muslimin untuk merendahkan dan menjelek-jelekkan penguasanya.
Suatu hari, ketika Ibnu Amir (penguasa Irak) sedang berkhutbah dengan menggunakan pakaian yang tipis, seseorang yang bernama Abu Bilal mengatakan: “Lihatlah pemimpin kita menggunakan pakaiannya orang fasik.” Abu Bilal tersebut kemudian ditegur oleh Sahabat Abu Bakrah Radhiyallahu ‘anhu sambil menyampaikan hadits yang didengarnya dari Nabi صلى الله عليه وسلم:

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ

“Barangsiapa yang menghinakan pemimpin Allah di bumi, Allah akan hinakan dia
(HR Tirmidzi, 2150 dihasankan Al-Albany)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَا مِنْ قَوْمٍ مَشَوْا إِلَى سُلْطَانِ اللهِ لِيَذِلُّوهُ إِلاَّ أَذَلَّهُمُ اللَّهُ قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah suatu kaum berjalan menuju pemimpin Allah dengan tujuan untuk menghinakannya, kecuali Allah akan hinakan ia sebelum hari kiamat.”
(H.R alBazzar 2848 dishahihan oleh al-Haitsamy dalam Majmauz Zawaaid)

Menasehati pemimpin dengan nasehat yang baik dan cara yang bijak adalah ibadah yang sangat mulia.
Dan ketika Nabi ditanya tentang jihad yang paling utama, Beliau menjawab,

كلمة حق عند سلطان جائر

“Kalimat kebenaran di sisi pemimpin yang dzalim“. (HR An-Nasai, Ibnu Majah dishahihkan Al-Albani dalam Ash Shahihah, 491)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan kepada kaum muslimin untuk bersikap mendengar dan taat kepada pemimpin muslim meski ia adalah seorang sangat jahat dan bertindak sewenang-wenang.
Bahkan Nabi mengibaratkan, walaupun pemimpin itu berhati Syaithan dalam tubuh manusia.
Tapi beliau tetap memerintahkan untuk bersikap mendengar dan taat dalam hal yang ma’ruf.

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ» ، قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Akan ada sepeninggalku para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku, tidak menjalankan Sunnah sesuai dengan Sunnahku. Akan bangkit di antara mereka laki-laki yang berhati Syaithan pada jasad manusia. Hudzaifah bin al-Yaman berkata: Apa yang aku lakukan wahai Rasulullah jika menjumpai hal demikian?
Rasul menjawab: Bersikaplah mendengar dan taat kepada pemimpin, meski punggungmu dipukul dan hartamu diambil. Bersikaplah mendengar dan taat (HR Muslim, 3435).

Sikap bersabar tersebut bukan bentuk persetujuan terhadap kedzhaliman mereka, namun sebagai upaya mencegah kemudharatan yang jauh lebih besar jika tidak disikapi dengan kesabaran.

Al-Imam An-Nawawy menasehatkan, supaya kita terus mendoakan kebaikan kepada para pemimpin.
Beliau berkata,

فَأَمَّا الدُّعَاءُ لِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَوُلَاةِ أُمُورِهِمْ بِالصَّلَاحِ وَالْإِعَانَةِ عَلَى الْحَقِّ وَالْقِيَامِ بِالْعَدْلِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَلِجُيُوشِ الْإِسْلَامِ فَمُسْتَحَبٌّ بِالِاتِّفَاقِ

“Adapun doa bagi penguasa kaum muslimin dan pemimpin mereka agar mendapatkan kebaikan dan kemudahan menegakkan kebenaran serta keadilan dan sejenisnya, juga untuk tentara Islam, maka yang demikian dianjurkan menurut kesepakatan para ulama.”(ِAl-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab 4/521)

Semoga bermanfaat

Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *