Makna As-Sunnah (السُنّة)

Kita sering atau beberapa kali mendengar atau mengucapkan kata As-Sunnah, sudahkah kita mengetahui dan memahami makna atau arti As-Sunnah?

Makna As-Sunnah secara Bahasa

Secara asal Bahasa Arab As-Sunnah berarti metode atau jalan yang ditempuh, baik maupun buruk.

Contohnya firman Alloh Ta’la:
يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Alloh hendak menerangkan (hukum syariatNya) kepadamu dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang sebelum kamu (para nabi dan orang sholih) dan menerima taubatmu. Dan Alloh maha mengetahui lagi maha bijaksana”. (QS. An-Nisaa”: 26).

Contohnya juga hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam:
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
“barangsiapa yang memulai sunnah yang baik dalam islam maka ia mendapatkan pahala Sunnah tersebut dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala orang itu sedikitpun, dan barangsiapa yang memulai Sunnah yang buruk maka ia menanggung dosa Sunnah tersebut dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi dosa orang itu sedikitpun”. (HR. Muslim no. 1017).

Contohnya lagi sebuah syair:
فلا تجزعنْ من سيرة أنت سرتها فأول راضٍ سُنّة من يسيرها
“janganlah kamu berkeluh kesah atas jalan yang kamu tempuh”
“orang pertama kali yang rela dengan suatu jalan ialah orang yang melewatinya”.

Beberapa Makna As-Sunnah

 1. Jalan atau metode yang ditempuh oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berupa Al-Qur”an dan Hadits, meliputi seluruh hukum yang berkenaan tentang akidah, ibadah, muamalah, akhlak nan adab, maka segala sesuatu yang datang dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam disebut As-Sunnah, dan ini adalah makna As-Sunnah yang sempurna dan paling luas cakupannya.

contohnya hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam:
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
“barangsiapa yang benci kepada sunnahku maka bukan bagian dariku”. (HR. Al-Bukhori no. 5063 dan Muslim no. 1401).

Contohnya juga hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam:
فعليكم بسنتي
“berpegang teguhlah dengan sunnahku”. (HR. Abu Dawud no. 4607 dan Ahmad dll).

Sering kali para salaf mengatakan As-Sunnah dan yang dimaksudkan ialah makna As-Sunnah yang menyeluruh seperti ini.

2. Lawan Bid’ah, terlebih jika berhubungan dengan akidah, atau lebih spesifik lagi berhubungan dengan salah satu masalah akidah, yang merupakan syarat atau rukun besar, atau sebagai garis pembeda antara Ahlus-Sunnah dan selain mereka.

Contohnya buku-buku yang judulnya membawa nama As-Sunnah: “As-Sunnah” karangan Ibnu Abi ‘Ashim, “As-Sunnah” karangan ‘Abdulloh bin Ahmad, “Minhajus-Sunnah” karangan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah, dan lain-lain.

 3. Bermakna Hadits, hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam disebut As-Sunnah, hal ini banyak bertebaran di buku-buku Ulama ketika menyebutkan dalil hukum yang mereka bicarakan, mereka mengatakan: “dalilnya Al-Kitab, As-Sunnah, Al-Ijma’, dalil dari Al-Kitab firman Alloh Ta’la …, dari As-Sunnah sabda/hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam … dst”.

4. As-Sunnah dalam Istilah Muhadditsin (ahli hadits), Ushuliyyin (ahli ushul fikih), dan Fuqoha (ahli fikih).

Ahli Hadits: segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, ciri fisik, atau peringai akhlak, bahkan sebagian mereka memasukkan perjalanan (siroh) beliau sebelum diutus.

Ahli hadits melihat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dari sisi beliau sebagai qudwah (contoh) dan imam, sehingga mereka meriwayatkan semua aspek kehidupan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, baik yang menunjukkan hukum syar’i atau tidak.

Ahli Ushul Fikih: ucapan, perbuatan, atau persetujuan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, yang bisa dijadikan dalil hukum syar’i”.

Ahli Ushul Fikih melihat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dari sisi beliau sebagai peletak syariat, oleh karenanya mereka membahas ucapan, perbuatan dan persetujuan beliau yang menunjukkan hukum syar’i.

Ahli Fikih: lawan wajib, yaitu sesuatu yang jika dikerjakan berpahala, jika ditinggalkan tidak terdapat sanksi/dosa.
Catatan: orang yang meninggalkan sesuatu yang hukumnya Sunnah (bukan wajib) karena benci hal tersebut maka ia telah benci terhadap Sunnah (jalan/metode) Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dan berdosa.

Diringkas dari :
– تدوين السنة النبوية، نشأته وتطوره من القرن الأول إلى نهاية القرن التاسع الهجري، د. محمد بن مطر الزهراني، ص. 13-15.
– مكانة السنة النبوية، د. عمر بن مصلح الحسيني، ص. 19-25.
– شرح الأربعين النووية، الشيخ عبد المحسن بن حمد العباد البدر، دروس صوتية قام بتفريغها موقع الشبكة الإسلامية http://www.islamweb.net، رقم الدرس: 26

✍Abu Hafsh bin Isa
?Madinah, 13 Robiul Akhir 1438.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *