Keutamaan Orang Miskin yang Sabar

Jangan bersedih dan jangan berduka cita jika kita ditakdirkan menjadi orang fakir miskin dan jangan dulu senang jika ditakdirkan menjadi orang kaya. Miskin dan kaya bukan ukuran seseorang hina atau mulia. Lebih baik menjadi orang yang miskin harta, tetapi kaya hati daripada kaya harta, tetapi miskin hati dengan minimnya iman dan amal shalih. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

لَيْسَ الْغِنى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَ لَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“(Hakikat) kaya bukanlah dengan banyaknya harta benda. Namun kaya (yang sebenarnya) adalah kaya hati (merasa ridha dan cukup dengan rezeki yang dikaruniakan).” (Shahih: HR. Ahmad (II/243, 261, 315), Al-Bukhari (no. 6446), Muslim (no. 1051), dan Ibnu Majah (no. 4137), dari Shahabat Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ).

Lihatlah kehidupan Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan para Shahabatnya, beliau hidup di Madinah dalam keadaan miskin, padahal beliau adalah pemimpin para Nabi dan Rosul عَلَيْهُمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ. Demikian pula para Shahabat رَضِيَاللهُ عَنْهُمْ banyak yang miskin, tetapi mereka menjadi sebaik-baik manusia setelah Nabi mereka, bukan karena harta dan kekayaan, tetapi karena iman dan amal shalih. Ummul Mukminin ‘Aisyah رَضِيَاللهُ عَنْهَا berkata,

مَاشَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ، مِنْ طَعَامِ بُرٍّ، ثَلَاثَ لَيَالٍ تِباَعًا، حَتَّى قُبِضَ

“Keluarga Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ tidak pernah kenyang semenjak berpindah ke Madinah, dari makan gandum selama tiga malam berturut-turut sampai beliau wafat.” (Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 5416 dan Muslim (no. 2970 (20)).

Orang miskin yang sabar, bertakwa, dan taat beribadah kepada Allah Ta’ala, maka ia adalah orang yang paling mulia. Orang yang tidak tahu keadaan mereka pasti menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya, karena mereka sabar dan menjaga diri, tidak meminta-minta kepada manusia.

Satu orang miskin yang bersabar (bertakwa) lebih baik daripada orang kaya yang tidak bersyukur (bertakwa) yang jumlahnya seisi dunia, walaupun orang lain banyak yang menghina orang miskin tersebut dan merendahkannya.

Dari Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi رَضِيَاللهُ عَنْهُ,”… Kemudian lewat seorang laki-laki fakir dan kaum Muslimin. Maka Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bertanya kepada para Shahabat, ‘Bagaimana pendapat kalian tentang orang (fakir) yang lewat tadi?’ Mereka menjawab, ‘Dia (orang Islam yang fakir), layak bila pinangannya ditolak, apabila minta pertolongan tidak ditolong, bila berkata tidak didengar.” Lalu Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

هَاذَا خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الْأَرْضِ مِثْلَ هَاذَا.

“Orang ini lebih baik daripada orang kaya itu sepenuh bumi semuanya.” (Shahih: HR. Al-Bukhari no. 5091).

Orang miskin yang sabar maka kesabarannya itu bisa menjadi sebab keselamatan agamanya. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

يُوشِكُ أَنْ يَكُوْنَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَ مَوَاقِعَ الْقَطْرِ، يَفِرُّ بِدِيْنِهِ مِنَ الْفِتْنِ.

“Hampir tiba waktunya sebaik-baik harta orang muslim ialah kambing yang digembalakannya di puncak gunung dan di lembah. Orang itu pergi manjauhi fitnah untuk menyelamatkan agamanya.” (Shahih: HR. Al-Bukhari no. 19, dari Abu Sa’id al-Khudriy رَضِيَاللهُ عَنْهُ).

Apabila seseorang dikaruniakan oleh Allah عَزَّوَجَلَّ kesabaran dalam menghadapi hidup ini, apalagi ia sabar di atas kemiskinan, maka ini adalah sebuah nikmat dan karunia yang besar. Abu Sa’id al-Khudri رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata, “Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

… وَ مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَ أَوْ سَعَ مِنَ الصَّبْرِ.

“… Dan tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih luas bagi seseorang daripada kesabaran.” (Shahih: HR. Al-Bukhari no. 1469, dan Muslim no. 1053, dari Abu Sa’id al-Khudriy رَضِيَ اللهُ عَنْهُ).

Do’a orang-orang yang miskin yang shalih dan taat sebagai sebab kaum Muslimin mendapatkan kemenangan dan pertolongan atas musuh-musuh Islam. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَ تُرْزَقُوْنَ إَلَّا بِضُعَفَائِكُمْ؟

“Bukankah kalian mendapat pertolongan dan rezeki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian?” (Shahih: HR. Al-Bukhari no. 2896, dari Sa’ad bin Abi Waqqash رَضِيَ اللهُ عَنْهُ). Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ juga bersabda,

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَاذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا : بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلَاتِهِمْ، وَ إِخْلَاصِهِمْ.

“Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan sebab orang-orang lemah di antara mereka, yaitu dengan do’a, shalat, dan keikhlasan mereka.” (Shahih: HR. An-Nasa’I (VI/45) dari Sa’ad bin Abi Waqqash رَضِيَ اللهُ عَنْهُ).

Sabar di atas kemiskinan dan menahan diri dari meminta-minta kepada manusia adalah salah satu sebab masuk surge. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

مَنْ يَكْفُلُ لِيْ أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَ أَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ؟ فَقَالَ ثَوْبَانُ: أَنَا. فَكَانَ لَا يَسْأَلُ أَحَدًا شَيْئًا.

“Siapakah yang mau menjamin untukku untuk tidak meminta-minta sesuatu pun kepada orang lain, dan aku akan menjamin ia dengan Surga?’” Maka Tsauban berkata, “Saya.” Maka dia tidak pernah meminta-minta sesuatu pun kepada orang lain.” (Shahih: HR. Abu Dawud no. 1643, Ahmad (V/276), dan Ibnu Majah no. 1837, dari Shahabat Tsauban رَضِيَ اللهُ عَنْهُ).

Orang yang sabar di atas kemiskinan dan menahan diri dari meminta-minta kepada orang lain, maka Allah Ta’ala akan menjaganya. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan dari kelebihan harta yang dimilikinya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allah akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya.” (Shahih: HR. Al-Bukhari no. 1427, Ahmad (III/403, 434), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir no. 3091, 3092, 3093), al-Qudha’i dalam Musnad asy-Syihab no. 1228, 1229, dan al-Baihaqi (IV/177), dari Shahabat Hakim bin Hizam رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. Dan Muslim no. 1053 (124), dari Shahabat Abu Sa’id al-Khudriy رَضِيَ اللهُ عَنْهُ).

Sungguh beruntung orang yang diberikan hidayah masuk ke dalam agama Islam, lalu diberikan rezeki yang cukup serta meras qana’ah (puas) dengan karunia yang Allah Ta’ala berikan kepadanya.

Orang miskin yang sabar dan rajin beribadah kepada Allah Ta’ala, mentauhidkan-Nya, manjauhkan syirik, melaksanakan sunnah, menjauhkan bid’ah, selalu taat dan menjauhkan maksiat, maka mereka akan masuk surga terlebih dahulu daripada orang muslim kaya.

Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ المُسْلِمِيْنَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ.

“Orang-orang faqir kaum Muslimin akan memasuki Surga sebelum orang-orang kaya (dari kalangan kaum Muslimin), (perbedaan lamanya) setengah hari, yaitu lima ratus tahun.” (Hasan Shahih: HR. At-Tirmidzi no. 2353-2354 dan Ibnu Majah no. 4122 dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ).

Kalau disebutkan tentang keutamaan orang miskin yang sabar dan bertakwa kepada Allah, bukan berarti bahwa tidak boleh orang menjadi kaya. Di dalam Islam tidak ada larangan orang menjadi kaya, tetapi jangan sampai kekayaannya menyibukkan dia dari beribadah kepada Allah, melalaikan dia dari menuntut ilmu syar’i dan mengamalkannya. Dan jangan pula melalaikan dia dari mengingat Allah dan berdzikir kepada Allah Ta’ala.

 

Dikutip dari Buku “Kat-Kiat Islam mengatasi Kemiskinan” Karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Dengan sedikit perubahan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *