Keutamaan Istiqamah

Keutamaa istiqamah banyak sekali, diantaranya:

  • Dilapangkan rezeki,
  • Diluaskan kehidupan,
  • Para Malaikat turun menghampiri, mereka memberikan rasa aman dari ketakutan, dan memberikan kabar gembira,
  • Diampuninya dosa-dosa, dan
  • Dimasukkan ke Surga.

Istiqamah sebagai sebab lapangnya rizki dan luasnya kehidupan di dunia. Allah Shubhaanahu wa Ta’alaa berfirman,

وَ أَلَّوِ اسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَّآءً غَدَقًا [16]

Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup.” (QS. Al-Jinn: 16)

Imam Al-Qurthubi Rahimahullahu (wafat th. 671 H) berkata, “Maksudnya, seandainya orang-orang kafir itu beriman, niscaya Kami berikan mereka keluasan di dunia dan Kami lapangkan rezeki untuk mereka.” (Tafsiir Al-Qurthubi (XXI/293), cet. Mu’assasah Ar Risaalah).

Firman Allah Shubhaanahu wa Ta’alaa,

Sesungguhnya orang-orang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah, ‘kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat – Malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (Surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. Fushshilat : 30-32)

Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied Rahimahullahu (wafat th. 702 H) berkata, “Maksudnya, mereka beriman kepada Allah Yang Maha Esa kemudian istiqamah di atasnya dan di atas ketaatan hingga Allah mewafatkan mereka.” (Syarh Arba’iin, Ibnu Daqiiqil ‘Ied (hlm. 85)).

Tentang ayat di atas al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullahu (wafat th. 774 H) berkata, “Mereka mengikhlaskan amal semata-mata karena Allah dan melaksanakan ketaatan sesuai dengan syari’at Allah.”(Tafsiir Ibni Katsir (VII/175)).

Ayat ini menunjukkan bahwa para Malaikat akan turun menuju orang-orang yang istiqamah ketika kematian menjemput, di dalam kubur, dan ketika dibangkitkan. Para malaikat itu memberikan rasa aman dari ketakutan ketika kematian menjemput, menghilangkan kesedihannya dengan sebab berpisah dengan anaknya karena Allah adalah pengganti dari hal itu, memberikan kabar gembira berupa diampuninya dosa dan kesalahan, diterimanya amal, dan kabar gembira dengan Surga yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. (Tafsiir Ibni Katsir (VII/177) dengan diringkas dan Qawaa’id wa Fawaa’id (hlm. 186-186))

Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullahu dalam menafsirkan ayat ini berkata, [تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَآئِكَةُ] ‘Maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka’, yakni disaat kematian sambil berkata, [أَلَّا تَخَافُوْا] ‘Janganlah kamu merasa takut,’ yaitu dari perkara-perkara akhirat yang akan kamu hadapi, [وَ لَاتَحْزَنُوْا] ‘dan janganlah kamu besedih hati,’ yaitu dari perkara-perkara dunia yang telah kamu tinggalkan, seperti anak-anak, keluarga, harta, agama, karena sesungguhnya Kami (Allah) akan menggantinya.

[وَأَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِى كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ] ‘Dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan kepadamu’. Lalu mereka diberi kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan tercapainya kebaikan.

Firman Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa, [نَحْنُ أَوْلِيَآؤُكُمْ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَ فِى الْأَخِرَةِ] ‘Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat,’ yaitu para malaikat berkata kepada orang-orang mukmin ketika kematian, ‘Kamilah pelindung-pelindungmu.’ Yakni pendamping-pendamping kalian di dalam kehidupan dunia, kami (para Malaikat) yang menunjukkan, mengaerahkan, dan melidungi kalian dengan perintah Allah. Begitu juga kami akan bersama kalian di akhirat, menemani kesendirian kalian di alam kubur, ketika ditiupnya sangkakala, dan berkumpulnya para manusia, serta membawa kalian melintasi ash-shiraath al-mustaqiim, dan menyampaikan kalian ke Surga yang penuh nikmat.

Firman Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa, [وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِى أَنْفُسُكُمْ] ‘Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan,’ yaitu di dalam Surga kalian akan memperoleh segala yang kalian pilih yang diinginkan oleh jiwa kalian dan disenangi oleh diri kalian. [وَلَكُمْ فِيْهَا مَاتَدَّعُوْنَ] ‘Dan memperoleh apa yang kamu minta,’ yaitu apapun yang kalian minta akan kalian dapatkan dan tersedia di hadapan kalian, sebagaimana yang kalian inginkan.

Firman Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa, [نُزُلًامِّنْ غَفُوْرٍرَّحِيْمٍ] ‘Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’ Yaitu hidangan, pemberian, dan kenikmatan dari Rabb Yang Maha Pengampun atas dosa-dosa kalian, Maha Mengasihi kalian serta Maha lembut, dimana Dia (Allah) mengampuni, memaafkan, menyayangi, dan mengasihi (kalian).” (Tafsiir Ibni Katsiir (VII/177 dengan ringkas).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang mencintai perjumpaan dengan Allah, niscaya Allah cinta untuk menjumpainya. Dan barangsiapa yang membenci perjumpaan dengan Allah, niscaya Allah benci menjumpainya.” Kami bertanya, “Ya Rasulullah, kami seluruhnya benci kepada kematian.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Bukan itu yang dimaksud benci kematian. Akan tetapi jika seorang mukmin berada dalam detik kematiannya, maka datanglah kabar gembira dari Allah Ta’aalaa tentang tempat kembali yang ditujunya. Maka tidak ada sesuatu (pun) yang lebih dicintainya daripada menjumpai Allah Ta’aalaa, maka Allah pun cinta menjumpainya. Dan sesungguhnya orang yang jahat atau kafir jika berada dalam detik kematiannya, maka datanglah berita tentang tempat kembali yang dituju berupa keburukan atau apa yang akan dijumpainya berupa keburukan, lalu ia benci perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun benci menjumpainya.” (Shahih: HR. Ahmad (III/107) dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).

Allah Shubhanahu wa Ta’aalaa berfirman,

قُلْ إِنَّمَآ أَنَاْ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَاهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيْمُوْا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ … [6]

“Katakanlah (Muhammad),Aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu tetaplah kamu (beribadah) kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya …” (QS. Fushshilat : 6)

Allah Shubhanahu wa Ta’aalaa juga berfirman,

إِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَ لَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ [13] أُوْلَآئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِيْنَ فِيْهَا جَزَآءً بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ [14]

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqomah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati. Mereka itulah para penghuni Surga, kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ahqaaf : 13 – 14)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *