Keselamatan di Sana yang Kuharapkan

Suatu ketika, kholifah ketiga Utsman bin Affan Rodhiyallahu ‘anhu sedang duduk termenung. Kemudian lewat di hadapan beliau kholifah kedua Umar bin Khottob Rodhiyallahu ‘anhu sambil mengucapkan salam, namun Utsman Rodhiyallahu ‘anhu tidak menjawabnya.Umar Rodhiyallahu ‘anhu bergegas menghadap kholifah pertama Abu bakar As-Shiddiq Rodhiyallahu ‘anhu mengadukan hal tersebut. Lalu mereka mendatangi Utsman. Abu Bakar kemudian bertanya kepada Utsman, mengapa dia tidak menjawab salamnya Umar. Utsman menjawab bahwa Umar tidak mengucapkan salam kepadanya. Namun hal itu di bantah oleh Umar bahwa dia benar-benar mengucapkan salam untuk Utsman.

Saat itu Abu Bakar memahami bahwa tidak ada yang salah dengan keduanya. Beliau pun mengajukan pertanyaan kepada Utsman, “Apa yang sedang engkau pikirkan wahai Utsman?”
Utsman lantas menjawab, “Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat dan belum sempat kutanyakan padanya kiat-kiat sukses di akhirat.”
Ternyata Abu bakar sudah menanyakan hal itu kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam terlebih dahulu.
Apa jawaban Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Abu Bakar mengenai kiat-kiat sukses di akhirat?

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Barangsiapa menerima satu kalimat yang dulu pernah aku tawarkan kepada pamanku (Abu Tholib) namun dia menolaknya (yakni kalimat tauhid), itulah keselamatan.” (HR. Ahmad)

Renungan:
Bila mereka yang sudah mendapatkan jaminan surga masih sangat memikirkan kiat agar selamat di akhirat, lantas bagaimana dengan kita? Bukankah kita telah tahu bahwa sebelum kematian ada yang namanya su’ul khatimah dan husnul khotimah.
Bukankah kita telah tahu bahwa di alam kubur ada nikmat dan adzab kubur.
Bukankah kita telah tahu bahwa kita akan dikumpulkan di bawah terik matahari yang hanya berjarak satu mil di padang yang luas dalam keadaan telanjang dan tidak beralas kaki.
Bukankah kita telah tahu bahwa bahan bakar api neraka adalah manusia dan bebatuan.
Bukankah kita mengetahui panasnya api neraka 70 kali lipat bila dibandingkan panasnya api dunia. Padahal bila terkena api sedikit saja kita tidak tahan, bagaimana 70 kali lipatnya?

Lantas apa yang harus kita lakukan agar selamat melewati dahsyatnya hari akhir?
1. Mengesakan Allah ٍSubhanahu wata’ala dalam setiap bentuk peribadatan.
2. Meneladani Sunnah Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana dikatakan bahwa sunnah itu ibarat bahtera Nabi Nuh ‘alaihis salam. Barangsiapa naik ke atas bahtera, maka dia akan selamat, dan yang meninggalkannya maka dia akan tenggelam.
3. Melaksanakan segala yang diwajibakan dan menjauhi segala yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya sholallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Muslim ketika Sahabat Nu’man bin Qouqol Rodhiyallahu ‘anhu mendatangi Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “bagaimana menurutmu apabila aku sholat wajib dan mengharamkan apa yang diharamkan dan menghalalkan apa yang dihalalkan, apakah aku akan masuk surga?” Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya.” riwayat lain menyebutkan, “dan aku tidak menambahnya dengan amalan apapun apakah aku akan masuk surga?” Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya.” Kemudian dia berkata, “Demi Allah, aku tidak menambahnya dengan amalan apapun.”
4. Menjaga lisan dari perkataan yang mendatangkan murka Allah, sebagaimana sabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Tirmidzi

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رضي الله عنه قَالَ : قُلْتُ «يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ؟» قَالَ: امْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِك

Dari Sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir Rodhiyallahu ‘anhu berkata, “wahai Rasulullah, apa itu keselamatan?” Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jagalah Lisanmu, berdiamlamlah dalam rumahmu (ketika fitnah terjadi), dan tangisilah kesalahanmu.”

5. Tidak tertipu dengan amalannya yang banyak,

روى الحاكم في مستدركه أن عَبْد اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ رضي الله عنه كان في بيته عند امرأته فَبَكَى ، فَبَكَتِ ، فَقَالَ لها : مَا يُبْكِيكِ ؟ فقَالَتْ: رَأَيْتُكَ تَبْكِي فَبَكَيْتُ ، فقَالَ رضي الله عنه : ذَكَرْتُ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: { وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا () ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا} [مريم] ، قال رضي الله عنه : فَلَا أَدْرِي أَنَنْجُو مِنْهَا أَمْ لَا

Imam al hakim meriwayatkan di dalam kitab al-Mustadrok bahwa Abdulloh bin Rowahah Rodhiyallahu ‘anhu menangis disisi istrinya, maka istrinya ikut menagis. Abdulloh bin Rowahah bertanya kepada istrinya: “mengapa engkau menangis?” Istrinya menjawab: “Aku menangis karena melihat engkau menangis.” Abdulloh bin rowahah berkata: “Aku teringat firman Allah: “ Setiap kalian akan mendatangi (neraka) karena itu merupakan kepastian dari Allah, kemudian Allah menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan memasukkan orang-orang dzolim kedalam neraka dalam keadaan tersungkur.” QS. Maryam: 71-72

Berkata Abdulloh bin Rowahah: “Aku tidak tau apakah aku akan selamat ataukah tidak.”
Bila seorang sahabat Nabi saja yang amalannya melebihi kita merasa sangat takut bila amalannya tidak diterima, bagaimana dengan kita?

6. Memperbanyak istighfar (memohon ampun) kepada Allah. Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu ‘anhu berkata: Aku heran dengan seorang yang binasa padahal keselamatan selalu bersamanya, dikatakan padanya apa itu wahai amirul mu’minin? Ali menjawab: “Al-istighfar.”

7. Memperbanyak do’a,
ALLAHUMMA AJIRNA MINANNAR, ALLAHUMMA AJIRNA MINANNAR, ALLAHUMMA AJIRNA MINANNAR.
(Ya Allah lindungilah kami dari api neraka, 3 kali)
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata: Nabi- shallallahu alaihi wa sallam– bersabda:

مَنْ سَأَلَ اللهَ الْجَنَّةَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ, قالَتِ الْجَنَّةُ: اَللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ. وَمَنِ اسْتَجارَ مِنَ النَّارِ ثَلاثَ مَرّاتٍ, قالَتِ النّارُ: اللهم أَجِرْهُ مِنَ النّارِ

“Barangsiapa yang meminta kepada Allah sebanyak 3 kali maka surga akan berkata, “Ya Allah masukkan dia ke dalam surga.” Dan barangsiapa yang meminta perlindungan dari neraka sebanyak 3 kali maka neraka akan berkata, “Ya Allah lindungilah dia dari neraka.” (HR. At-Tirmizi, Ibnu Majah , dan dinyatakan shahih oleh syekh Al-Albani).

Semoga bermanfaat.
Sumber: situs Al-badr.net (syekh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin) dengan sedikit perubahan redaksi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *