Hukum Jabat Tangan Dengan Wanita Bukan Mahram

Pada zaman kontemporer ini, jabat tangan antara laki-laki dengan perempuan hampir menjadi tradisi. Tradisi buruk itu mengalahkan akhlak islami yang semestinya ditegakkan. Bahkan mereka menganggap kebiasaan itu jauh lebih baik dan lebih tinggi nilainya dari pada syari’at Allah yang mengharamkannya. Sehingga jika salah seorang dari mereka engkau ajak dialog tentang hukum syari’at dengan dalil-dalil yang kuat dan jelas, tentu serta merta ia akan menuduhmu sebagai orang yang kolot, ketinggalan zaman, kaku, sulit beradaptasi, ekstrim, hendak memutus tali silaturahim, menggoyahkan niat baik, dan sebagainya.

Sehingga dalam masyarakat kita, berjabat tangan dengan anak (perempuan) paman atau bibi, dengan istri saudara atau istri paman, baik dari pihak ayah maupun ibu lebih mudah dari pada minum seteguk air.

Seandainya mereka melihat secara jernih dan penuh pengetahuan, tentang bahaya persoalan tersebut menurut syari’at, tentu tidak akan melakukan hal tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطِ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمُسَّ امْرَأَةً لَا يَحِلّ لَه.

“Sungguh ditusuknya kepala salah seorang dari kalian dengan jarum besi, lebih baik baginya dari pada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani)

Kemudian tak diragukan lagi, hal ini termasuk zina tangan, sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

العَيْنَانِ تَزْنِيَان واليَدَان تَزْنِيَان والرِّجْلاَنِ تَزْنِيَان والفَرَجُ يَزْنِي

“Kedua mata berzina, kedua tangan berzina, kedua kaki berzina, dan kemaluanpun berzina.” (HR. Ahmad)

Dan adakah orang yang hatinya lebih bersih dari hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Walaupun demikian beliau mengatakan:

إِنَّيْ لَا أَمَسُّ أَيْدِيَ النِّسَاء

“Sesungguhnya aku tidak pernah menyentuh tangan wanita.” (HR. Ahmad)

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

إنِّيْ لَا أُصَافِحُ النِّسَاء

“Sesungguhnya aku tidak pernah menjabat tangan wanita.”

Dan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

وَلَا وَالله, مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم يَدَ امْرَأَةٍ قَطٌّ غَيْرَ أَنَّهُ يُبَايِعْهُنَّ بِالْكَلَامِ

“Dan Demi Allah, sungguh tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali, tetapi beliau membai’at mereka dengan perkataan.”

Hendaknya takut kepada Allah, orang-orang yang mengancam cerai istrinya yang sholehah, karena ia tidak mau berjabat tangan dengan kolega-koleganya.

Perlu juga diketahui, berjabat tangan dengan lawan jenis, meski memakai alas (kaos tangan) hukumnya tetap haram.

 

Disalin dari buku Dosa-Dosa yang dianggap biasa, Karya Syekh Muhammad Shalih Al Munajjid, Alih Bahasa Ainul Haris Umar Thayyib

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *