Jangan Remehkan Senyum. :)

Seorang Muslim yang baik, dituntut untuk bisa bergaul dengan apik di tengah masyarakat.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Seorang mukmin yang berbaur dengan masyarakat dan bersabar terhadap gangguan dari mereka, itu lebih besar pahalanya daripada mukmin yang tidak berbaur dengan masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka”(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad 383, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’, 6651)

Bertemu dengan sesama sambil menampakkan senyum dan wajah ceria merupakan akhlak kenabian, dan ia akan mendatangkan kasih sayang, karena senyuman merupakan gambaran kejernihan jiwa, kebahagiaan dan sebagai sarana penyebaran cinta kasih antar sesama, sebagaimana pelakunya akan diterima di masyarakat dan ia juga termasuk anjuran para nabi dan rasul.
Nabi Sulaiman عليه السلام ketika mendengar seekor semut yang memperingatkan bala tentaranya, Allah berfirman :

حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لاَ يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لاَ يَشْعُرُونَ* فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا
“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut : Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu” (An Naml 27 : 18-19).

Senyum kepada lawan bicara, atau orang yang ditemui, akan mencairkan hati dan menimbulkan kebahagiaan. Tidak ada hati yang fitrah dan bersih kecuali pasti akan memberikan respon positif terhadap senyuman.
Wajah yang penuh senyuman adalah akhlak Nabi.
Jarir bin Abdillah berkata :
“Sejak aku masuk Islam, Rasulullah tidak pernah menghindari aku jika aku ingin bertemu dengannya, dan tidak pernah aku melihat beliau kecuali beliau tersenyum padaku.” (HR. Bukhari, no.6089)

Selain menjadi bagian dari praktek akhlak mulia, senyuman juga hal yang diperintahkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada ummatnya dalam berinteraksi sosial. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ
“Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.”(HR. Tirmidzi 1956, dishahihkan oleh Al Albani)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم selalu ceria dan tersenyum.
Abdullah bin Al Harits berkata :

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ
“Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih banyak tersenyum melebihi Rasulullah Saw” (Ahmad, 17704 dan At-Tirmidzi, 3641 dishohihkan Al-Albani)

Para Salaf juga mencontohkan akhlak mulia ini dengan perkataannya,
Dari Habib bin Abi Tsabit berkata,

“من حُسْنِ خلق الرجل أن يُحدِّث صاحبه وهو يبتسم”.
“Termasuk keindahan akhlak seorang adalah ketika dia berbicara dg temannya sambil tersenyum.”(Roudhotul Uqola karya Ibnu Hibban, 77)
Wallahu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *