Hukum Tidur Sepanjang Hari Ketika Puasa

Soal: Apa hukumnya tidur sepanjang hari? Bagaimana hukum puasa orang yang tidur terus dan dia bangun hanya untuk melaksanakan kewajiban lalu tidur lagi. Bagaimana hukum melakukan hal tersebut?

Pertanyaan ini mrncakup dua hal. Pertama, seseorang tidur sepanjang hari dan tidak bangun sama sekali. Tidak diragukan lagi bahwa orang ini berarti menyakiti diri sendiri dan berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan tidak melaksanakan shalat tepat waktu. Dan jika dia termasuk orang yang seharusnya melakukan shalat berjamaah, berarti kemaksiatannya ditambah dengan meninggalkan shalat berjamaah. Hal ini hukumnya haram dan mengurangi nilai puasanya. Perumpamaan hal ini bagaikan orang yang membangun gedung dan merobohkannya secara terus menerus. Oleh karena itu, dia wajib bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala dan melaksanakan shalat tepat waktu sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah.

Kedua, orang yang masih melaksanakan shalat fardhu tepat waktu secara berjamaah. Hal ini tidak berdosa, namun dia telah melewatkan banyak kebaikan bagi dirinya. Sebab, orang yang berpuasa seyogianya mengisi waktu dengan melaksanakan shalat, dzikir, doa, dan membaca Al-Qur’an sehingga didalam puasanya dia dapat menghimpun berbagai macam ibadah. Apabila seseorang telah membiasakan diri dan melatih diri dengan melaksanakan ibadah ketika sedang berpuasa, niscaya dia merasa ringan melakukan ibadah-ibadah tersebut. Jika seseorang terbiasa bermalas-malasan, bersikap lemah, dan santai-santai, maka dia tidak akan mempunyai kegemaran selain hal itu. Akibatnya, dia merasa berat melaksanakan ibadah dan amal perbuatan ketika sedang berpuasa.

Nasihat saya kepada mereka, jangan memenuhi waktu puasa dengan tidur. Hendaklah mereka bersemangat untuk melaksanakan ibadah. Segala puji bagi Allah, saat ini orang berpuasa dapat memanfaatkan alat-alat yang dapat mengurangi beratnya puasa baik dengan AC dan semisalnya sehingga puasa terasa ringan.

 

Disalin dari buku “Fikih Ibadah Kumpulan Fatwa Lengkap Syaikh Muhammda bin Shalih Al-Utsaimin” Penyusun, DR. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar, Penerjemah, Taufik Aulia Rahman, Penerbit, Media Zikir, Solo.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *