Hukum Mengintip ke dalam Rumah Orang Lain Tanpa Izin

Tidak diragukan lagi, Islam sangat menjaga kehormatan manusia. Tak seorang pun boleh melihat (mengintip) ke dalam rumah orang lain tanpa izin, sekalipun ada situasi yang meragukan.

Ini telah dijelaskan dengan jelas dalam As-Sunnah dan telah dipraktikkan oleh Rasullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antaranya hadits riwayat Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu yang menuturkan, “Ada seseorang melihat kedalam kamar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melalui salah satu lubang yang ada di dinding. Saat itu, Nabi membawa sejenis sisir dari besi untuk menggaruk kepalanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:

لو أعلم أنك تنظر لطعنت به في عينك إنما جعل الإستئذان من أجل الأبصر

“Seandainya aku tahu engkau mengintip, pasti akan kulemparkan sisir ini ke matamu. Sesungguhnya meminta izin itu disyari’atkan untuk menjaga pandangan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu diceritakan tentang seseorang yang mengintip Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dari salah satu lubang dinding. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dengan membawa anak panah bermata lebar. Seakan aku melihat beliau sedang mengintai orang itu untuk menikamnya.”

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

لو اطلع في بيتك أحد في بيتك أحد ولم تأذن له خذفته بحصاة ففقأت عينه ماكان عليك من جناح

“Apabila ada orang yang melihat ke dalam rumahmu sedang kamu tidak mengizinkannya, lalu engkau melemparnya dengan batu hingga merusak matanya, maka tak apa-apa bagimu. ( HR. Bukhari)

Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa yang melihat ke dalam sebuah rumah sebelum mendapatkan izin maka ia telah berbuat fasik.” (HR. Bukhari)

Dari berbagai riwayat diatas, terdapat beberapa pelajaran penting:

Pertama, bolehnya mencederai mata orang yang melihat (mengintip) ke dalam rumah orang lain tanpa izin. Riwayat-riwayat tadi menyebutkan hal ini secara jelas. Ini adalah pendapat madzhab hambali dan Asy-Syafi’i. mereka berkata, “karena apabila matanya copot, tidak dikenakan qishash dan diyat (denda).

Mereka berdalil dengan berbagai riwayat diatas, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak apa-apa bagimu.” Sedang diyat dan qishash diterapkan pada kejahatan. Mereka juga berdalil dengan sabda Rasulullah

لو أعلم أنك تنظر طعنت به عينك

“Seandainya aku tahu kalau engkau melihat pasti akan aku lemparkan sisir ini kematamu.”

Hadits ini menunjukkan bolehnya perbuatan tersebut. Sebab, tidak mungkin Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ingin melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan. Dalam kasus ini, dimana menciderai mata diperbolehkan, pelakunya tidak dikenai apa-apa.

Mengenai hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang telah lalu, An-Nawawi Rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan bolehnya melempar mata orang yang mengintip dengan sesuatu yang ringan. Jika ia melemparnya dengan sesuatu yang ringan tapi mencederainya, maka ia tidak dikenai denda. Dan mengintip ke dalam rumah yang di dalamnya tidak ada perempuan hukumnya haram.” Wallahu ‘alam. (SyarahAn-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, 14/138)

Para pengikut madzhab Maliki dan Hanafi tidak menyetujui madzhab ini. Mereka berkata, “Apabila mencederai mata orang yang melihatnya, maka ia diqishash dan membayar diyat.”

As-Syaukani Rahimahullah berkata, “Dalil mereka yang paling kuat adalah perkataan mereka. ‘Sesungguhnya perbuatan maksiat itu dibalas dengan yang semisalnya’. Ini aneh dan membuat heran orang yang pegang pada kebenaran. Bagaimana mungkin berpegang dengan perkataan seperti ini yang berlawanan dengan hadits-hadits shahih.

Setiap orang berilmu mengetahui, sesuatu yang dibolehkan Allah bukanlah perbuatan maksiat. Bagaimana mungkin mencederai mata orang yang mengintip masuk kedalam kaidah membalas kemaksiatan dengan semisalnya.

Mereka juga beralasan bahwa hadits tadi hanya sebagai penjelas bagi dilarangnya perbuatan ini, agar manusia menjauhinya.

Dalil ini tidak bisa diterima, karena apa yang telah sampai pada kita dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan hukum syar’I, kecuali ada qarinah (dalil yang menunjukkan makna lain).

Sebagian ulama membedakan antara orang yang mengintip sebelum diperingatkan dan setelah diperingatkan. Tapi hadits yang menerangkan hal ini tidak membedakannya. (Nail AL-Autahar)

Pendapat yang kuat –wallahu ‘alam- adalah pendapat pertama. Yakni, jika matanya cidera maka tidak dikenakan qishash dan diyat. Kesimpulan ini harus diterima kecuali ada dalil yang mengharuskan merujuk pada yang lain. Kebanyakan ulama mendukung pendapat ini, antara lain: As-Syaukan rahimahullah, An-nawawi dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. (Adhwa’ Al-Bayan, 6/182)

Kedua, Sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam

إنما جعل الإستئذان من أجل البصر

“Sesungguhnya meminta izin itu disyariatkan untuk menjaga pandangan.”

Tidak bisa dipahami bahwa orang yang buta tidak perlu minta izin. Karena sesuatu yang jarang terjadi, tidak memiliki hukum tersendiri. Karena itu, ia juga diharuskan meminta izin.

Ketiga, orang yang melihat melalui pintu terbuka tidak boleh diciderai matanya. Sebab, pintu yang terbuka tidak menandakan kehormatan.

Keempat, orang yang mengintip dari atas dinding boleh diciderai matanya. Ini didasarkan pada hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من اطلع في بيت قوم بغير إذنهم فقد حل لهم أن يفقئوا عينه

“Barangsiapa yang mengintip rumah sebuah kaum tanpa izin, mereka diperbolehkan mencederai matanya. (HR. Ahmad dalam musnadnya 2/266, Muslim dalam Al-Adab, bab Tahrim an-nazhar fi bait al-ghair, shahih muslim bi syarhi An-Nawawi, 14/136)

Makna “rumah sebuah kaum” dalam hadits ini mencakup “mengintip dari atas dinding”. (diambil dari penjelasan syaikh Utsaimin)

Kelima, jika seorang mengintip lalu pergi, maka tidak boleh dikejar untuk diciderai matanya. Tapi, ia dikejar untuk mengetahui apa keinginannya. Kalau dikejar, untuk diciderai matanya maka itu tidak boleh.

Keenam, seandainya seseorang mengizinkan orang lain untuk mengintip rumahnya, lalu orang itu mengintipnya dan bisa melihat penghuni rumah, kemudian mereka menciderai matanya. Maka, dalam kasus ini, mereka dikenai denda atas matanya. Orang yang mengizinkan untuk mengintip harus membayar denda atas matanya.

Ketujuh, yang boleh diciderai adalah matanya saja. Seandainya pemilik rumah memukul orang yang mengintip, lalu ternyata yang terkena adalah bagian tubuh lain, seperti dahi dan alis, maka ia menanggung dendanya. Tapi, hukumnya, ia dianggap keliru dan tidak sengaja.

 

Disalin dari buku “Etika meminta izin: Nasihat Nabi shallahu ‘alaihi wasallam dalam bertamu” Penulis, Syekh Ahmad Sulaiman Yusuf Al-‘Uraini, Penerjemah, Nur Alim, Pustaka At-Tazkia.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *