Hukum Makan Karena Lupa di Bulan Ramadhan

Tanya: Bagaimana hukum orang yang makan dan minum dalam kondisi lupa, dan apakah orang yang melihat orang lain melakukan hal tersebut wajib mengingatkan bahwa dia sedang berpuasa?

Jawab: Orang yang makan dan minum dalam keadaan lupa bahwa dirinya sedang berpuasa, maka sesungguhnya puasanya masih sah. Akan tetapi, jika dia telah ingat, maka dia wajib menghentikannya, sehingga jika ada sesuap makanan atau minuman di dalam mulutnya, maka dia wajib memuntahkannya. Dalil bahwa puasanya masih sempurna ialah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang terdapat dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمُهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقٌاهُ

Barangsiapa lupa bahwa dirinya sedang berpuasa, lalu dia makan dan minum, maka hendaklah menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberi makan dan minum kepadanya.

Sebab, seseorang yang melakukan keharaman dalam keadaan lupa tidak dijatuhi sanksi, berdasarkan firman Allah subhanahu wata’la:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا

Ya Rabb kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. (Al-Baqarah: 286)

Kemudian firman Allah subhanahu wata’la, “Aku telah mengampuninya.”

Sedangkan orang yang melihat orang lain melakukan hal tersebut, maka dia wajib mengingatkannya karena perbuatan ini termasuk mengubah kemungkaran. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِه, فَإِنْ لَّمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِه, فَإِنْ لَّمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِه

Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak mampu melakukannya, maka hendaklah dia melakukan dengan lisannya. Dan jika dia tidak mampu melakukannya, maka hendaklah dia melakukan dengan hatinya.

Tidak diragukan lagi bahwa makan dan minum dalam keadaan berpuasa merupakan perbuatan yang mungkar. Akan tetapi, hal tersebut ditolelir ketika dilakukan dalam keadaan lupa karena tidak ada sanksi melakukannya. Sedangkan orang yang melihat orang lain melakukannya, maka tidak ada alasan baginya untuk tidak mengingkarinya.

 

dikutip dari kumpulan fatwa syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah yang disusun oleh DR. Abdullah bin Muhammad Bin Ahmad Ath-Thayyar, penerjemah, Taufik Aulia Rahman.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *