Hikmah Syariat di Balik Talak dan Membatasinya Hingga Tiga Kali

Allah Shubhaanahu wa Ta’ala mensyariatkan thalak untuk para suami apabila mereka berkeinginan untuk mengganti istri-istri mereka dengan istri-istri yang baru dan melepaskan diri dari istri-istri yang pertama. Berlandaskan kebijaksanaan-Nya, Dia menjadikan thalak itu tiga kali, sebagai bentuk keleluasaan bagi seorang suami. Sebab, ketika jelas baginya suatu perkara, lalu dia menyesal, akhirnya ia rujuk kepada istrinya.

Ini merupakan bentuk kesempurnaan kebijaksanaan Allah, kelemah-lembutan dan kasih sayang-Nya kepada umat ini. Dia tidak menjadikan pernikahan mereka seperti pernikahan orang-orang Kristen, di mana seorang istri menjadi rantai di leher suaminya sampai mati. Tak ada kesamaran lagi bahwa di antara dua syarat ini terdapat perbedaan. (I’lam al-Muwaqi’in, II/71).

Diharamkan seorang istri atas suaminya setelah thalak yang ketiga dan diperbolehkannya dia untuk kembali kepada suaminya yang pertama setelah dia menikah dan diceraikan oleh suami yang kedua. Dalam masalah ini terkandung hikmah yang tidak diketahui, kecuali oleh siapapun yang mempunyai pengetahuan tentang rahasia-rahasia syariat dan hal-hal yang tercakup padanya berbagai hikmah dan kemaslahatan-kemaslahatan global.

Saat dihalalkan kemaluan seorang istri untuk suaminya setelah sebelumnya diharamkan atasnya, dan terlarangnya ia darinya termasuk dalam nikmat Allah yang paling besar terhadap suami dan kasih sayang-Nya terhadapnya. Karena itu, sangat pantas untuk mensyukuri nikmat ini, memeliharanya, menunaikan hak-haknya dan tidak menghadapkannya kepada kesirnaan.

Syariat dalam masalah ini telah bervariasi sesuai dengan kemaslahatan-kemaslahatan yang telah diajarkan oleh Allah Shubhaanahu wa Ta’ala pada setiap zaman dan tempat. Maka datanglah syariat Taurat yang menghalalkan seorang istri bagi suaminya setelah dia menceraikannya, sebelum dia menikah (dengan laki-laki lain). Setelah ia menikah, maka dia diharamkan bagi suaminya yang pertama dan tidak tersisa baginya jalan untuk kembali kepada mantan istrinya. Dalam masalah ini terkandung hikmah dan kemaslahatan yang tidak tersamarkan, bahwa seorang suami apabila ia mengetahui bahwa ia menceraikan istrinya, urusan istri mutlak di tangan sang istri. Dia berhak untuk menikah dengan laki-laki lain dan apabila dia telah menikah dengan laki-laki lain, maka mantan istrinya akan diharamkan selamanya untuknya. Sang suami akan betul-betul mempertahankan istrinya dan kewaspadaannya untuk tidak menceraikan istrinya menjadi lebih besar. Syariat Taurat datang sesuai dengan umat di mana zamannya terdapat kekerasan dan beban berat yang sesuai dengan keadaan mereka.

Kemudian datanglah syariat Injil yang melarang perceraian selamanya setelah pernikahan. Apabila seorang laki-laki menikah dengan seorang wanita, maka ia tidak berhak untuk menceraikannya. Maka datanglah syariat yang sempurna dan utama, yaitu syariat pengikut Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Syariat inilah yang paling sempurna yang diturunkan dari langit secara mutlak, yang paling mulia, utama, tinggi dan lebih lurus untuk kemaslahatan-kemaslahatan semua hamba dalam kehidupan dunia dan kehidupan akhirat mereka. Syariat inilah yang paling indah dari semua syariat terdahulu, yang paling sempurna dan paling sesuai dengan akal dan kemaslahatan.

Allah Shubhaanahu wa Ta’ala telah menyempurnakan untuk umat ini agama mereka, telah mencukupkan atas mereka nikmat-Nya, mengizinkan hal-hal baik untuk mereka, di mana tidak dihalalkan sebelumnya untuk umat-umat selain mereka. Maka dibolehkan bagi laki-laki untuk menikahi empat orang wanita terbaik dan mempunyai gundik dari kalangan budak wanita sesuka hatinya. Tidak ada pergundikan (dengan budak wanita milik sendiri) dalam syariat lainnya. Dia menyempurnakan syariat-Nya untuk hamba-Nya dan mencukupkan nikmat-Nya atasnya dengan menjadikan ia mempunyai kekuasaan untuk menceraikan istrinya dan menggantinya dengan wanita yang lain.

Sebab, ketika yang pertama tidak memberikan kemaslahatan baginya dan tidak ia setujui, Dia tidak menjadikan istri itu sebagai tali gantungan di leher suaminya, tali pengikat di kedua kakinya dan beban yang berat di punggungnya. Allah mensyariatkannya dengan cara yang paling sempurna untuk istrinya dan dirinya, yaitu dengan cara menthalaknya satu kali. Lalu sang istri menunggu selama tiga kali suci (iddah). Biasanya itu berlangsung selama tiga bulan. Maka jika jiwanya condong padanya, dia senang kepadanya dan Allah membuat hatinya cnderung mencintainya, maka jalan untuk kembali kepadanya sudah tersiapkan dan pintunya pun terbuka. Maka dia pun rujuk kepada kekasih hatinya (istrinya).

Ketika perkaranya menjadi baru lagi dan terulang lagi apa yang telah dikeluarkan oleh kemarahan dan godaan-godaan setan dari istrinya, lalu dia tidak akan merasa aman dari kekalahan watak dan godaan-godaan setan yang terus-menerus, maka dia berkesempatan untuk menceraikan istrinya untuk kedua kalinya. Tujuannya, agar sang istri dapat merasakan kepedihan perceraian dan kehancuran rumah tangga yang akan menghalanginya untuk mengulangi hal-hal yang dapat membuat suaminya marah hingga menceraikannya. Tujuan lainnya agar suami juga merasakan kepedihan berpisah dengannya sesuatu yang akan menghalangi dirinya dari sikap tergesa-gesa mengambil keputusan bercerai.

Apabila thalak ketiga sudah terjadi, maka datanglah dari Allah perkara yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Dikatakan kepada sang suami: “Engkau telah menyalurkan hajatmu pada thalak yang pertama dan kedua, dan tidak ada kesempatan bagimu setelah thalak ketiga.” Jika dia mengetahui bahwa thalak yang ketiga adalah perpisahan antara dirinya dengan istrinya sekaligus sebuah vonis yang menahan dia untuk kembali kepadanya (rujuk), maka jika dia mengetahui bahwa seorang istri setelah thalak yang ketiga tidak dihalalkan lagi baginya, kecuali setelah dia menyelesaikan iddah-nya dan menikah dengan suami baru yang benar-benar menginginkan menikahinya dan mempertahankannya, sampai suami barunya menggaulinya dengan sempurna.

Masing-masing suami istri merasakan kelezatan madu pasangannya. Hal itu akan menghalangi keduanya dari perpisahan yang cepat. Kemudian ia akan menceraikannya dengan sebab kematian, thalak atau khulu (seorang istri meminta cerai kepada suaminya dengan cara mengembalikan mahar yang telah diberikan kepadanya), lalu mantan istrinya akan menjalani masa iddah secara penuh.

Pada saat itu, tampaklah bagi suami pertama sikap putus asa setelah thalak yang ketiga. Thalak adalah perkara halal yang sangat dibenci oleh Allah, sehingga masing-masing suami istri akan mengetahui bahwa tidak ada jalan bagi suaminya untuk kembali kepadanya setelah thalak yang ketiga jatuh, tidak atas kehendak suami dan tidak juga atas kehendak istri.

Tujuan ini telah Allah Shubhaanahu wa Ta’ala ketatkan dengan melaknat suami kedua apabila dia tidak menikah secara dengan pernikahan yang betul-betul ia inginkan di dalamnya terdapat hubungan yang sangat kuat. Allah melaknat jika suami kedua itu menikah dengan maksud nikah tahlil, yakni agar perempuan itu halal bagi suami pertamanya. Allah melaknat suami yang pertama jika dia mengambilnya kembali dengan sebab pernikahan ini. Sebaliknya, suami yang kedua harus menikahinya sebagaimana suami pertama menikahinya (dengan rasa cinta) dan menceraikannya seperti suami pertama menceraikannya. Pada saat itulah, wanita itu dihalalkan bagi suami yang pertama sebagaimana dihalalkan untuk yang lainnya dari para suami.

Jika Anda membandingkan antara syariat ini dan kedua syariat yang telah dihapuskan (syariat Injil dan Taurat), lalu Anda bandingkan syariat ini dengan syariat yang sudah diubah dengan membolehkan perbuatan yang pelakunya dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya, maka akan jelas bagi Anda keagungan syariat ini, kemuliaan dan kelebihannya di atas semua syariat.

Syariat ini datang membawa berbagai maksud dan tujuan paling sempurna, komplit, indah dan bermanfaat bagi makhluk. Kedua syariat yang telah dihapuskan lebih baik daripada syariat-syariat yang diubah-ubah. Allah Shubhaanahu wa Ta’ala mensyariatkan kedua syariat yang telah dihapuskan (ajaran-ajarannya) pada suatu waktu, tapi Dia tidak mensyariatkan syariat yang berubah-ubah.

Detail perkara ini dan lainnya merupakan hal-hal yang Allah Shubhaanahu wa Ta’ala khususkan pemahamannya bagi orang-orang yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang memahaminya, hendaknya memuji Allah. Barangsiapa yang tidak memahaminya, hendaklah dia menyerahkan kepada Hakim yang paling bijaksana dan yang paling mengetahui alam ini dan agar dia mengetahui bahwa syariat Allah berada di luar jangkauan akal para pemikir dan cendekia.

Seorang penyair berkata:

Katakanlah pada mata-mata yang pedih, janganlah engkau mendekat

                ke matahari dan yang ditutupi oleh kegelapan malam

               Izinkanlah, jangan mengingkarinya dan biarkanlah ia,

                dan jika dia mengingkari kebenaran, maka katakanlah: menyendirilah dalam kehinaan

 

Penyair lain berkata:

Kefakiran telah dihinakan oleh satu kaum yang tidak berakal

                Atas mereka marabahaya disebabkan mencelanya

                Tidaklah membahayakan mentari waktu dhuha saat matahari bersinar

                Sinarnya tidak akan dilihat oleh orang yang tidak memiliki penglihatan

 

 

Disalin dari buku “Indahnya Islam” Penulis, Musa’id bin Abdillah as-Salman

Penerjamah, Widyan Wahyudi dengan judul, cetakan, Pustaka at-Tazkia Jakarta

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *