Hikmah Larangan Berpuasa Di Akhir Sya’ban

Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ، فَلْيَصُمْ ذَلِكَ اليَوْمَ

“janganlah salah seorang di antara kalian mendahului Romadhon dengan berpuasa sehari atau dua hari, kecuali seseorang yang terbiasa puasa, maka hendaknya ia berpuasa pada hari itu.”(HR. Al-Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1082).

At-Tirmidzi berkata setelah membawakan hadits ini: “ahli ilmu beramal berdasarkan hadits ini, mereka membenci jika seseorang berpuasa sebelum masuknya bulan Romadhon karena berhati-hati untuk Romadhon, adapun jika seseorang terbiasa puasa (sunnah) kemudian bertepatan dengan itu (akhir Sya’ban) maka tidak mengapa ia berpuasa menurut mereka (ahli ilmu)”.

Hikmah larangan Ini yang disebutkan oleh Ulama:

1. Hikmahnya supaya menjadikan orang lebih kuat berpuasa Romadhon. Tetapi hikmah ini lemah; karena berpuasa Sya’ban secara penuh atau kebanyakan dari bulan Sya’ban atau mendahului Romadhon dengan berpuasa lebih dari dua hari tidak makruh, dan tentu ini membuat orang menjadi lebih lemah dibandingkan berpuasa dua atau satu hari saja. Akan tetapi tidak berpuasa di akhir sya’ban dengan niat menguatkan diri untuk berpuasa Romadhon merupakan hal yang baik bagi orang yang lemah dikarenakan terus menerus menyambung puasa. Ini mirip dengan perkataan sebagian sahabat:

أَمَّا أَنَا فَأَنَامُ وَأَقُومُ، فَأَحْتَسِبُ نَوْمَتِي كَمَا أَحْتَسِبُ قَوْمَتِي

“Adapun aku, aku tidur dan juga menegakkan sholat (malam), aku mengharapkan pahala di saat tidurku sebagaimana aku mengharapkan pahala di saat sholat malamku”. (Shohih Al-Bukhari no. 4341 dan 4344).

2. Hikmahnya sebagai pemisah antara puasa fardhu dan puasa sunnah. Membedakan antara hal yang fardhu dan yang sunnah adalah sesuatu yang disyariatkan, oleh karena itu puasa di hari id diharamkan, begitu pula Nabi shollallohu’alaihiwasallam memerintahkan agar satu sholat tidak diteruskan bersambung dengan sholat lain kecuali telah dipisahkan dengan perkataan atau keluar (pindah tempat) (HR. Muslim no. 883). Tetapi hikmah ini juga perlu ditinjau ulang; karena bagi orang yang memiliki kebiasaan berpuasa sunnah, boleh saja ia berpuasa walaupun bertepatan dengan akhir Sya’ban, sebagaimana dalam hadits itu sendiri.

3. Hikmahnya supaya menjauhkan dari berhati-hati untuk menghadapi Romadhon, sehingga mendahului Romadhon dengan puasa dilarang agar tidak ada tambahan di dalam suatu ibadah yang bukan darinya, dalam hal ini puasa Romadhon, sebagaimana juga puasa di hari id diharamkan karena hikmah ini, sebagai bentuk peringatan agar umat waspada dan tidak terjatuh menyerupai ahli kitab dalam ibadah puasa mereka, mereka menambahi puasa sesuai pendapat dan keinginan mereka. Hikmah inilah yang dipilih oleh Al-Maziri dan Al-Qurthubi, serta diisyaratkan oleh At-Tirmidzi di atas.

4. Hikmahnya ialah karena syariat mengkaitkan hukum memulai berpuasa dengan ru’yatul-hilal, maka orang yang mendahului Romadhon dengan berpuasa sehari atau dua hari, ia telah berusaha membuat hukum tersebut cacat (disadari atau tidak) dan menyelesihi nash. Hikmah inilah yang dikuatkan oleh Ibnu Hajar dan Al-Amir Ash-Shon’ani.

Wallohu A’lam.

Rujukan:
Jami’ At-Tirmidzi (2/64), Al-Mu’lim (2/47), Al-Mufhim (3/146-147), Lathoif Al-Ma’arif (hal. 258-260), Al-I’lam (5/161-162), Fathul-Bari (5/252-253 dan 415), dan Subulus-Salam (2/417-418).

Abu Hafsh bin Isa
Madinah, 23 Sya’ban 1438

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *