Tentang Hadits Al-‘Irbadh bin Sariyah Rodhiallohu ‘Anhu (Bag 4 Selesai)

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Waspadalah terhadap perkara-perkara baru yang diada-adakan, sesungguhnya setiap perkara baru yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dll).

Sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam ini merupakan peringatan bagi umat islam agar menjauhi perkara baru yang diada-adakan (dimunculkan), bahkan beliau menegaskan perihal ini dengan sabdanya: “setiap bid’ah adalah sesat”.

Bid’ah ialah sesuatu yang dibuat/ diada-adakan tanpa ada dasar pokok syariat sebagai landasan/dalilnya, dan hal ini berhubungan erat dengan perpecahan yang dicela pada potongan hadits sebelumnya. Adapun sesuatu yang ada dalilnya dari dasar pokok syariat tidak disebut bid’ah secara syar’i, walaupun bisa disebut bid’ah secara bahasa.

Dalam Shohih Muslim dari Jabir Rodhiallohu ‘anhu bahwa Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda dalam khutbahnya:

إِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabulloh, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Muslim no. 867).

Sabda beliau: “setiap bid’ah adalah sesat” (كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ) merupakan salah satu jawami’ al-kalim (kata ringkas namun maknanya padat dan menyeluruh) tidak ada satu bid’ah pun yang keluar darinya, dan ini merupakan kaidah pokok yang besar di antara pokok-pokok prinsip agama, sabda beliau ini selaras dengan sabda beliau yang lain:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perkara (agama) kami sesuatu bukan darinya maka tertolak”. (HR. Al-Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718).

Maka barangsiapa yang memunculkan perkara baru dan menisbatkannya kepada agama, padahal tidak ada dasar pokok agama yang melandasinya, maka itu adalah kesesatan, sedangkan agama berlepas diri darinya, baik perkara itu dalam masalah akidah, perbuatan, atau ucapan.

Ibnu ‘Umar berkata: “setiap bid’ah sesat walaupun manusia melihatnya sebagai kebaikan”. (diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr dalam “As-Sunnah” hal. 94 dengan sanad shohih).

Imam Malik berkata: “barangsiapa yang membuat suatu bid’ah, ia memandangnya sebuah kebaikan, sungguh ia telah mengklaim bahwa Muhammad telah mengkhianati risalah; karena Alloh berfirman:

اليوم أكملت لكم دينكم

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu “. (QS. Al-Maidah: 3).

Maka apapun yang bukan (bagian dari) agama pada hari itu, tentu bukanlah (bagian dari) agama pada hari ini pula”. (Al-I’tishom 1/62).

Abu ‘Utsman An-Naisaburi berkata: “barangsiapa yang menjadikan As-Sunnah sebagai pemegang kendali bagi dirinya dalam berkata dan berbuat, maka ia berucap dengan hikmah, dan barangsiapa yang menjadikan hawa nafsunya sebagai pemegang kendali bagi dirinya dalam berkata dan berbuat, maka ia berucap dengan bid’ah”. (Hilyatul-Auliya” 10/244).

Adapun perkataan sebagian salaf tentang baiknya sebagian bid’ah, maksudnya ialah bid’ah secara bahasa, bukan bid’ah secara syar’i. Contohnya ketika ‘Umar Rodhiallohu ‘anhu mengumpulkan orang-orang ketika sholat tarawih di bulan Romadhon dengan diimami oleh satu imam dalam masjid, dia keluar dan melihat mereka seperti itu, kemudian dia berkata:

نِعْمَ البِدْعَةُ هَذِهِ

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. (HR. Al-Bukhari no. 2010).

Perbuatan ‘Umar Rodhiallohu ‘anhu ini memiliki landasan pokok:

Nabi shollallohu ‘alahi wasallam menganjurkan para sahabat untuk menegakkan sholat malam di bulan Romadhon, dan pada zaman beliau orang-orang menunaikannya menjadi beberapa jamaah dan sebagian menunaikannya sendiri.

Nabi shollallohu ‘alahi wasallam pernah menjadi imam sholat malam bagi para sahabat dibulan Romadhon lebih dari sekali (beberapa malam), kemudian beliau tinggalkan karena khawatir hal tersebut akan menjadi wajib hukumnya sehingga mereka tidak mampu melaksanakannya, dan kekhawatiran ini sudah hilang setelah Nabi shollallohu ‘alahi wasallam wafat. (HR. Al-Bukhari no. 2012).

Diriwayatkan bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam pernah menjadi imam sholat malam bagi para sahabat pada malam-malam ganjil di sepuluh terakhir bulan Romadhon. (HR. Ashhabus-Sunan Al-Arba’ah).

Abu Nu’aim Al-Ashbahani meriwayatkan dengan sanadnya dari Imam Syafi’i beliau berkata: “bid’ah ada dua: bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela, yang sesuai As-Sunnah itulah yang terpuji, yang menyelisihi As-Sunnah itulah yang tercela”, beliau berdalil dengan perkataan ‘Umar di atas. (Hilyatul-Auliya 9/113 dalam sanadnya ada salah satu perowi yang belum diketahui jarh atau ta’dilnya).

Maksud Imam Syafi’i ialah apa yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa bid’ah yang tercela ialah apa yang tidak berpijak pada landasan pokok syariat, dan itulah bid’ah dalam istilah syar’i, adapun bid’ah yang terpuji ialah apa yang sesuai dengan AS-Sunnah, artinya memiliki landasan pokok dari As-Sunnah, dan itu disebut bid’ah secara bahasa bukan dalam istilah syar’i.

Oleh karenanya Imam Syafi’i pada kesempatan lain berkata: “hal yang baru itu ada dua: (yang pertama) hal baru yang menyelisihi Al-Kitab atau As-Sunnah atau Atsar atau Ijma’, maka ini bid’ah sesat, dan

(yang kedua) hal baru yang bersifat baik, tidak bertentangan dengan salah satu (landasan yang disebutkan) tadi, ini tidak tercela”. (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi’i 1/468-469 dengan sanad shohih). Perkataan beliau ini menafsirkan perkataan beliau sebelumnya di atas.

Ibnu Mas’ud Rodhiallohu ‘anhu berkata: “sesungguhnya kamu berada di atas fitroh pada hari ini, suatu saat nanti kamu akan membuat hal baru dan dibuatkan hal baru bagimu, jika kamu melihat hal baru maka berpegang teguhlah dengan jalan pertama (Sunnah Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya)”. (Diriwayatkan oleh Al-Marwazi dalam “As-Sunnah” hal. 93 dengan sanad yang shohih).

Imam Malik berkata: “satupun dari ahwa” (bid’ah) ini belum ada pada zaman Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr, Umar dan Utsman”. (Diriwayatkan oleh Al-Firiyabi dalam “Al-Qodar” hal. 218 dengan sanad yang shohih).

Seakan-akan Imam Malik mengisyaratkan tentang perpecahan dalam prinsip agama dengan munculnya Khowarij, Rofidhoh, Murjiah dan sekte semisal mereka yang mengkafirkan kaum muslimin, dan menghalalkan darah dan harta mereka, atau menghukumi mereka kekal di dalam neraka, atau memvonis orang-orang khusus (para sahabat) dari kalangan umat ini sebagai orang fasik, atau sebaliknya, yaitu meyakini bahwa maksiat tidak membahayakan pelakunya, atau meyakini bahwa tidak ada satupun ahli tauhid yang masuk neraka.

Yang lebih parah dari itu ialah keyakinan baru tentang perbuatan Alloh, qodho dan qodarNya, sehingga muncul kelompok yang mendustkan qodar Alloh dan mengklaim bahwa diri mereka telah mensucikan Alloh dari kedholiman dengan cara mendustakan qodar.

Yang lebih parah lagi ialah keyakinan baru tentang Dzat dan Sifat Alloh, yang tidak pernah disuarakan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, para sahabatnya dan orang yang mengikuti mereka dengan baik. Sehingga muncul kelompok yang meniadakan banyak sekali dari sifat Alloh yang tertera di Al-Qur”an dan As-Sunnah, mereka berkeyakinan bahwa mereka mensucikan Alloh dengan perbuatan mereka tersebut sesuai dengan tuntutan akal mereka, dan meyakini bahwa Alloh mustahil memiliki konswekensi dari sifat-sifat tersebut (serupa dengan sifat makhluk). Dan di sisi lain muncul kelompok yang tidak saja menetapkan sifat-sifat ini, bahkan selain menetapkan sifat-sifat ini mereka juga menetapkan sesuatu yang mereka duga sebagi konswekensinya seperti sifatnya makhluk.

Di antara hal baru setelah masa sahabat dan tabi’in adalah berbicara tentang halal dan harom hanya berdasarkan pendapat dan pandangan semata dan menolak banyak dalil dari As-Sunnah dikarenakan hanya bertentangan dengan pendapat, pandangan dan analogi.

Kemudian setelah itu, muncul pembicaraan tentang Hakikat, Dzauq (perasaan) dan Kasyf (tersingkap), dan keyakinan bahwa Hakikat menghapus Syariat, serta Ma’rifat (pengetahuan) diiringi kecintaan sudah cukup dan tidak perlu beramal, dan itu merupakan hijab (penutup/pembatas), atau keyakinan bahwa syariat hanya dibutuhkan oleh orang awam saja. Dan bisa jadi selain itu, dibumbuhi dengan pembicaraan tentang Dzat dan Sifat yang jelas-jelas diketahui menyelisihi Al-Kitab, As-Sunnah, dan Ijma’ salaf.

Alloh-lah yang menunjuki orang yang Ia kehendaki kepada jalan lurus.

Diringkas dari:
(-جامع العلوم والحكم (ص.495-505).
(-فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين (ص. 98-99).

Abu Hafsh bin Isa
Madinah, 25 Robiul Akhir 1438.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *