Tentang Hadits Al-‘Irbadh bin Sariyah Rodhiallohu ‘Anhu (Bagian 3)

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Barangsiapa di antara kalian yang hidup setelahku maka akan melihat banyak perselisihan, oleh karena itu berpegang teguhlah dengan sunnahku dan Sunnah para Khulafa Rosyidin yang diberi petunjuk, berpegang teguhlah dan gigit Sunnah tersebut dengan gigi geraham”.(HR. Ahmad dan Abu Dawud dll).

Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam memberi kabar kepada kita bahwa akan terjadi perselisihan di tengah umat beliau di dalam I’tiqod (keyakinan), perbuatan, dan ucapan.

Hal ini sesuai dengan hadits iftiroqul ummah (perpecahan umat) yang menegaskan bahwa umat beliau berpecah belah menjadi tujuh puluh lebih golongan, semuanya terancam masuk neraka kecuali satu saja, yaitu mereka yang berada di atas jalan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau.

Hadits ini termasuk dari tanda kenabian Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam, beliau memberi kabar tentang perkara yang akan terjadi di masa yang akan datang dan menjadi kenyataan, sebagian sahabat yang diberi umur panjang menjumpai banyak perselisihan dan banyak hal yang menyelisihi jalan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau dengan munculnya beberapa sekte sesat, seperti: Qodariyyah, Khowarij dan sekte lain.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam ketika memberi kabar perpecahan umat dalam hadits ini, beliau memberi solusi dan jalan keluar agar kita selamat, yaitu berpegang teguh dengan Sunnah beliau dan Sunnah para Khulafa Rosyidin (Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali –Rodhiallohu ‘anhum).

Sunnah yang dimaksudkan di sini ialah jalan yang ditempuh, maka mencakup seluruh I’tiqod (keyakinan), perbuatan, dan ucapan beliau dan para Khulafa’ Rosyidin, ini makna Sunnah secara sempurna, oleh karena itu dahulu para salaf tidak mengatakan Sunnah kecuali memaksudkan makna seperti ini, adapun Ulama yang datang setelahnya mengkhususkan Sunnah untuk perkara I’tiqod (keyakinan); karena I’tiqod (keyakinan) merupakan pondasi agama, sedangkan orang yang menyelisihinya berada dalam bahaya besar.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dengan tegas menyuruh kita untuk berpegang teguh dengan Sunnah beliau dan Sunnah Khulafa’ Rosyidin dengan memakai dua unsur gaya bahasa dalam hadits ini:

1. fa’alaikum فعليكم ini adalah ism_fi’l_amr, menunjukkan perintah yang mengandung beban kewajiban.

2. Wa ‘adhdhu’ alaiha bin nawajidz وعضّوا عليها بالنواجذ ” gigit Sunnah tersebut dengan gigi geraham”, potongan ini merupakan kiasan yang menunjukkan perintah untuk berpegang teguh dengan Sunnah tersebut dengan seerat-eratnya.

Diambil dari:
(-جامع العلوم والحكم (ص. 495).
(-فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين (ص. 97-98).

Abu Hafsh bin Isa
Madinah, 9 Robiul Akhir 1438.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *