Antara dua hadits qudsi

“semua kalian tersesat …” dan “Aku ciptakan hambaku hanif semua …”.
Dalam sebuah hadits qudsi Alloh berfirman:
يا عِبادي كُلُّكُم ضال إلا من هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أهدكم
“wahai hambaku, masing-masing kalian tersesat kecuali orang yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah dariKu tentu Aku beri kalian hidayah” (HR. Muslim no. 2577).
Alloh juga berfirman dalam hadits qudsi yang lain:
وإني خَلقْتُ عِبادي حنفاء كلهم، وإنهم أتتهم الشياطين فاجتالتهم عن دينهم
“Dan sesungguhnya Aku ciptakan hambaku hanif semua, dan sesungguhnya mereka didatangi oleh setan kemudian membawa mereka menjauh (tersesat) dari agama mereka” (HR. Muslim no. 2865).
Ibnu Rojab menjelaskan bahwa sebagian orang mengira kedua hadits di atas bertentangan, padahal tidak demikian, Alloh Ta’ala menciptakan manusia di atas fithroh menerima islam, condong terhadap islam, tetapi seorang hamba tetap butuh diajari tentang ajaran islam, karena ia sebelum diajari merupakan sosok yang jahil, tidak mengetahui, sebagaimana firman Alloh:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا
“Dan Alloh mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun” (Al-Nahl: 78).

Ringkasnya manusia dilahirkan dalam keadaan tercipta di atas fithroh menerima Al-Haq, jika Alloh beri kepadanya hidayah Alloh datangkan kepadanya orang yang mengajarkan dia petunjukNya sebagai sebab, sehingga ia benar-benar menjadi orang yang mendapatkan hidayah, dan jika sebaliknya, Alloh jadikan ia orang hina (tidak mendapatkan hidayah) Alloh datangkan kepadanya orang yang mengajarkan dia apa yang merubah fitrohnya, sehingga tersesat, sebagaimana tersirat dalam hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam:
(ما من مولود إلا يولد على الفطرة، فأبواه يهودانه، وينصرانه، أو يمجسانه). متفق عليه، وفي رواية لمسلم: (ويشركانه)
“tidaklah seorang dilahirkan kecuali dilahirkan di atas fithroh, maka kedua orang tuanya yang menjadikan ia yahudi, atau nashrani, atau majusi” Muttafaq ‘alaihi, dalam salah satu riwayat muslim (no. 2658): “dan menjadikan ia musyrik”.
Diambil dari Jami’ Al-‘Ulum wal-Hikam (hal. 425-426).
penulis berkata: mari hendaknya kita selalu berdoa meminta hidayah kepada Alloh dan menebarkan hidayah kepada makhuk Alloh.

Abu Hafsh bin Isa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *