Fitnah Dunia Dan Harta

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah dan celakalah hamba khamilah (Khamishah dan Khamilah adalah pakaian yang terbuat dari wol atau sutera dengan diberi sulaman atau garis-garis yang menarik dan indah. Maksud ungkapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sabdanya tersebut ialah untuk menunjukkan orang yang sangat ambisi dengan kekayaan dan duniawi, sehingga menjadi hamba harta benda. Mereka itulah orang-orang yang celaka dan sengsara). Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi, ia marah. Celakalah ia dan tersungkurlah! Apabila terkena duri semoga tidak dapat mencabutnya. Berbahagialah seorang hamba yang memacu kudanya (berjihad) di jalan Allah, dengan kusut rambutnya dan berlumur debu kedua kakinya. Bila dia berada di pos penjagaan, dia tetap setia berada di pos penjagaan itu; dan bila ditugaskan di garis belakang dia akan tetap setia berada di garis belakang itu. Jika dia meminta permisi (untuk menemui raja atau penguasa) tidak diperkenankan (Tidak diperkenankan dan tidak diterima perantaraannya, yaitu dia tidak mempunyai kedudukan atau pangkat dan tidak terkenal; karena perbuatan dan amal yang dilakukannya dengan ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla semata), dan jika bertindak sebagai perantara tidak diterima perataranya.” (Shahih: HR. Al Bukhari (no. 2887))

Dalam hadits tersebut, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membagi manusia menjadi dua:

Pertama, orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, puncak ilmunya, dan sasaran pertama dan terakhirnya. Maka orang seperti ini tempat kembalinya adalah kebinasaan dan kerugian. Ciri-ciri orang seperti yang bisa membongkar kedoknya adalah :

  • Keinginannya yang sangat kuat terhadap dunia; baik untuk memperbanyak harta maupun memperbagus penampilannya.
  • Jika diberi dia gembira, jika tidak maka ia murka.
  • Dunia telah memperbudaknya sehingga menyibukkan dia dari berdzikir kepada Allah dan beribadah kepada-Nya.

Kedua, Seorang yang tujuan utamanya adalah akhirat, dia berusaha mencapainya dengan usaha yang terberat, yaitu jihad, karena orang yang berjihad di jalan Allah lebih baik dari dunia dan seisinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَغَدْوَةٌ فِي سَبِيْلِ اللهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَ مَا فِيْهَا.

“Sungguh, keluar di pagi hari atau sore hari (dalam rangka jihad) di jalan Allah, lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Shahih: HR. Al Bukhari (no. 2792 – Fathul Baari (VI/13-14) dan Muslim (no. 1880), dari Shahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan juga oleh lainnya dari beberapa Shahabat).

Di antara cirinya adalah:

  • Tujuan dari amalannya adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
  • Tidak terlalu peduli dengan penampilian luar.
  • Melaksanakan tugas-tugas agama dengan sebaik-baikyan
  • Tidak mencari kedudukan dan popularitas, sehingga terlihat hina di hadapan manusia.
  • Menjauh dari orang-orang yang mempunyai pangkat dan kedudukan, sehingga tidak dikenal oleh mereka. Maka ketika minta izin, tidak diizinkan dan ketika memberi rekomendasi, tidak diterima

Akan tetapi, orang seperti ini tempat kembalinya adalah surga dan itulah balasan terbaik baginya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kita tentang fitnah harta yang banyak membinasakan manusia, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَ فِتْنَةُ أُمَّتِيْ الْمَالُ

“Setiap ummat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah ummatku adalah harta.” (Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2336), Ahmad (IV/160), Ibnu Hibban (no. 2470 – al Mawaarid), dan al-Hakim (IV/318), lafazh ini milik at-Tirmidzi, beliau berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Dari Shahabat Ka’ab bin ‘Iyadh Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Silsilah al Ahaadiits ash Shahiihah (no. 592)).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“… Demi Allah! Bukan kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi aku khawatir jika dunia dibentangkan (diluaskan) atas kalian seperti telah diluaskan atas orang-orang sebelum kalian, lalu kalian belomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba mendapatkannya kemudian dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka.” (Shahih: HR. Al Bukhari (no. 4015, 6425) dan Muslim (no. 2961) dari ‘Urwah bin az-Zubair Radhiyallahu ‘anhu. Lafazh ini milik Muslim)

“Aku tidak mengkhawatirkan kefakiran atas kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah kalian bermegah-megahan. Dan aku tidak mengkhawatirkan atas kalian kesalahan, tetapi yang aku khawatirkan atas kalian yaitu sengaja (melakukan kesalahan).” (Shahih: HR. Ahmad (II/308, 539), Ibnu Hibban (no. 3213 – at Ta’liiqaatul Hisaan) dan al Hakim (II/534), dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Al Hakim berkata, “Shahih sesuai dengan syarat Muslim).

“Sesungguhnya yang aku takutkan atas kalian adalah Allah membukakan untuk kalian keindahan dunia dan perhiasaan.” (Shahih: HR. Al Bukhari (no. 1465), Muslim (no. 1052), dan Ahmad (III/21, 91), dari Abu Sa’id al Khudri Radhiyallahu ‘anhu).

“Sesungguhnya dinar dan dirham telah membinasakan orang-orang sebelum kalian dan keduanya juga membinasakan kalian.” (Shahih: HR. Al Bazzar (V/51, no. 1612) dengan sanad jayyid).

Sesungguhnya kekalahan ummat Islam disebabkan karena mereka cinta dunia dan tahut mati. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Hampir-hampir (nyaris) ummat ini dikerumuni ummat-ummat yang lain sebagaimana orang makan mengerumuni tempat dulangan (nampan) untuk makan.” Ada yang bertanya, “Apakah hal itu dikarenakan jumlah kita pada saat itu sedikit, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Bahkan pada waktu itu jumlah kalian banyak, tetapi kalian seperti buih. Sungguh, Allah akan mencabut rasa takut dari hati-hati musuh kalian dan Allah akan memberikan kepada kalian penyakit al-wahn.” Maka ada yang bertanya, “Apakah al-wahn itu, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Yaitu, cinta dunia dan takut mati.” (Shahih: HR. Ahmad (V/278) dan Abu Dawud (no. 4297) dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Silsilah al Ahaadiits ash Shahiihah (no. 958)).

“ Jika kalian telah berjual beli dengan sistem ‘bai’ul ‘innah’ (yaitu menjual suatu barang kepada seseorang dengan cara menghutangkannya untuk jangka waktu tertentu dan barang tersebut diserahkan kepadanya, kemudian si penjual membelinya kembali dari pembeli secara kontan dengan harga yang lebih murah, sebelum menerima pembayaran dari si pembeli tersebut. Lihat ‘Aunul Ma’bud (IX/263, cet. Daarul Fikr) dan Silsilah al Ahaadiits ash Shahiihah (I/42)) dan kalian telah memegang ekor-ekor sapi dan ridha dengan pekerjaan bertani (yakni kalian sibuk dengan dunia sampai melupakan apa-apa yang Allah wajibkan atas kalian. (Lihat At Tashfiyah wat Tarbiyah wa Hajatul Muslimin ilaiha, hlm. 11, karya Syaikh Al Albani Rahimahullah)) serta meninggalkan jihad (di jalan Allah), niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kalian, dan Dia tidak akan mencabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (Shahih: HR. Abu Dawud (no. 3462) dan al Baihaqi dalam Sunannya (V/316), dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhumaa. Lihat Silsilah al Ahaadiits ash Shahiihah (no. 11)).

Penilaian penduduk dunia terhadap manusia adalah dari segi harta, sebagaimana dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ أَحْسَابَ أَهْلِ الدُّنْيَا الَّذِيْ يَذْهَبُوْنَ إِلَيْهِ الْمَالُ

“Sesungguhnya keutamaan-keutamaan penduduk dunia yang mereka cari adalah harta.” (Shahih lighairihi: HR. Ahmad (V/353, 361), an Nasa’i (VI/372), Ibnu Hibban (no. 1233 – Mawaariduzh Zham’aan), al Hakim (II/163), Ibnu Abi ‘Ashim dalam az-Zuhd (no. 288) dan lainnya, dari Buraidah Radhiyallahu ‘anhu. Sanad hadits ini hasan, kemudian ada syahid (penguat) dari hadits Samurah dan lainnya yang menjadikan hadits ini shahih lighairihi).

الْحَسَبُ الْمَالُ وَ الْكَرَمُ التَّقْوَى

“Keutamaan adalah karena harta dan kemuliaan adalah karena takwa.” (Shahih lighairihi: HR. At-Tirmidzi (no. 3271), Ibnu Majah (no. 4219), al Hakim (II/163 dan IV/325), Ibnu Abi ‘Ashim dalam az-Zuhd (no. 229), dan selainnya, dari Samurah Radhiyallahu ‘anhu).

Padahal menurut Al Qur’an bahwa yang mulia bukan karena harta, akan tetapi orang yang mulia adalah yang bertakwa kepada Allah. Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa berfirman,

… إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ …[13]

“… Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa …” (QS. Al Hujuraat : 13)

 

Oleh : Ustadz  Yazid bin Abdul Qadir Jawas dalam “Dunia Lebih Jelek Daripada Bangkai Kambing” dengan perubahan.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *