Keyakinan dan Amalan Menyimpang di Bulan Sya’ban

  1. Keyakinan Bahwa Ajal, Umur, Dan Rizki Manusia Ditentukan Pada Bulan Sya’ban

Ini adalah keyakinan yang bathil. Sebab, tidak ada dalil dari Al-Qur’an al-Karim dan As-Sunnah ash-Shahihah yang menjelaskan hal ini. Adapun dalil yang banyak digunakan oleh kebanyakan orang adalah hadits yang lemah dan palsu. Misalnya:

“Dari ‘Usman bin al-Mughirahرَضِيَ اللهُ عَنْهُ , ia berkata, “Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

“Ajal manusia ditetapkan dari bulan Sya’ban ke Sya’ban berikutnya, sehingga ada seorang yang menikah dan dikarunia seorang anak, lalu namanya keluar sebagai orang-orang yang akan mati.”

Hadits ini mursal. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Jaami’ul Bayan (XXV/109) dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (no. 3839), tetapi sanadnya terhenti sampai pada ‘Utsman bin al-Mughirah saja, tidak sampai kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ. Al-Hafizh Ibnu Katsir رَحِمَهُ اللهُ mengatakan, “Hadits ini mursal, tak bisa untuk menentang nash-nash (yang lain).” (Tafsiir Ibnu Katsir (IV/174), cet. Mu-assasah ar-Risalah).

  1. Keyakinan Bahwa Al-Qur’an Diturunkan Pada Malam Nishfu Sya’ban

Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala,

إِنَّآ أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhaan: 3)

Mereka mengatakan bahwa maksud dari ayat ini adalah malam Nishfu Sya’ban sebagaimana yang diriwayatkan dari Makhul dan yang lainnya. Akan tetapi, penafsiran ini adalah bathil, sebab maksud dari ayat tersebut adalah malam Lailatul Qadar. Sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir رَحِمَهُ اللهُ.

  1. Mengkhususkan Bulan Sya’ban Untuk Berziarah Kubur

Sya’ban adalah bulan menjelang Ramadhan yang diyakini banyak orang sebagai waktu utama untuk ziarah kubur, yaitu mengunjungi (jawa=nyadran) kubur-kubur orang tua, karib kerabat, atau para wali, kyai, dan sebagainya.

Ziarah kubur tidak khusus pada bulan Sya’ban saja. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memerintahkan ummatnya untuk berziarah kubur supaya melembutkan hati dengan mengingat kematian. Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

زُوْرُوْا الْقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

“Ziarah kuburlah kalian karena hal itu lebih mengingatkan kalian pada kematian.” (Shahih: HR. Muslim (no. 976 (108)), Abu Dawud (no. 3234), an-Nasa-i (IV/90), dan lainnya.

Karena itu, ritual sebagian masyarakat dimana merekaa mengkhususkan berziarah kubur (nyadran atau nyekar) pada waktu-waktu tertentu seperti menjelang bulan Ramadhan, adalah suatu kesalahan karena tidak ada keterangannya dari syari’at Islam yang mulia.

  1. Ritual Ruwahan

Sebagian masyarakat mengadakan ritual kirim do’a bagi kerabat yang telah meninggal dunia dengan membaca surah Yaasiin (Yasinan) atau disertai juga dengan Tahlilan. Ritual ini dikenal Ruwahan. Orang Jawa menyebut bulan Sya’ban dengan Ruwah, yang berasal dari kata arwah, sehingga bulan Sya’ban menjadi identik dengan kematian. Karena itu, tradisi Yasinan tau Tahlilan di bulan Sya’ban menjadi laris. Padahal semua ini tidak ada contoh dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan para Shahabat رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ. Semua perbuatan ini adalah bid’ah.

  1. Ritual Nishfu Sya’ban

Sebagian masyarakat mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban untuk mengerjakan shalat dan berdo’a. Perlu diketahui bahwa mengkhususkan suatu amalan ibadah pada waktu-waktu tertentu memerlukan dalil/keterangan yang jelas dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih. Jika tidak, maka amalan tersebut adalah bid’ah yang tercela.

Adapun tentang amalan tertentu di malam Nishfu Sya’ban, maka tidak ada hadits yang shahih tentangnya. Seluruh hadits yang menyebutkan tentang amalan di malam Nishfu Sya’ban adalah hadits yang maudhu’ (palsu) maupun dha’if (lemah). Sehingga, tidak ada amalan khusus apapun di malam ini, baik itu membaca Al-Qur’an (Tadarusan), shalat Alfiyah, do’a jama’ah, dan sebagainya. Inilah pendapat dari kebanyakan ulama, dan ini adalah pendapat yang benar. Wallahul Muwaffiq.

Dikutip dari buku Ritual Sunnah setahun karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *