Kecuali Puasa…

Rosululloh shollallohu’alaihiwasallam bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
وفي رواية: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
وفي رواية: لكُلِّ عَمَلٍ كَفَّارَةٌ، وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Setiap amalan anak Adam dilipat gandakan, satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipatnya, bahkan sampai tujuh ratus kali lipat, Alloh berfirman: “kecuali puasa, sesungguhnya ia untukKu, Aku yang akan membalasnya”.

Dalam riwayat lain: “setiap amalan anak Adam untukknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia untukKu, Aku yang akan membalasnya”.

Dalam riwayat lain: “bagi setiap amalan ada kaffaroh (penghapus), tetapi puasa untukKu, Aku yang akan membalasnya”.

(HR. Al-Bukhari no. 1894, 1904, 5927, 7492, 7538 dan Muslim no. 1151).

Makna Tiga Riwayat Di Atas

Riwayat pertama bermakna bahwa seluruh amalan dilipat gandakan dari sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa, ia dilipat gandakan dengan lipatan yang sangat besar sekali tanpa ada batasan hitungan tersebut, karena puasa bagian dari sabar, dan Alloh telah berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanyalah orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS. Az-Zumar: 10).
Dan perlu diketahui bahwa puasa mengumpulkan tiga macam kesabaran: sabar dalam ketaatan kepada Alloh, sabar dari nafsu syahwat yang diharamkan oleh Alloh, dan sabar menghadapi rasa lapar, haus, badan tersa lemas dan sebagainya.

Riwayat kedua bermakna bahwa seluruh amalan itu untuk hamba itu sendiri, tetapi puasa berbeda, Alloh khususkan puasa untuk diriNya dan Alloh sandarkan ia bagiNya, maksud dari pengkhususan ini ialah:

1. Orang yang berpuasa meninggalkan seluruh keinginan hawa nafsu dan syahwatnya yang itu merupakan tabiat manusianya untuk Alloh, dan tidak ada ibadah yang sifatnya seperti itu kecuali puasa. Kita ambil contoh Ihrom, seorang yang berihrom dilarang dari jima’ dan pendorong-pendorongnya seperti wewangian, tetapi ia tidak dilarang dari nafsu syahwat lain, seperti makan dan minum, begitu pula i’tikaf. Adapun sholat, walaupun seorang ketika mengerjakan sholat ia meninggalkan seluruh syahwatnya tetapi durasinya tidak lama seperti puasa.

2. Puasa merupakan rahasia antara seorang hamba dan Robbnya, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, karena puasa terdiri dari niat batin yang tidak diketahui kecuali oleh Alloh dan meninggalkan syahwat yang biasanya cenderung dipenuhi secara sembunyi-sembunyi.

Riwayat ketiga bermakna bahwa seluruh amalan digunakan untuk menghapuskan kedloliman, kecuali puasa, sehingga tatkala pahala kebaikan seseorang habis untuk menghapus kedlolimannya sampai tidak tertinggal kecuali puasa saja, Alloh yang akan menghapus kedlolimannya dan memasukkan dia ke surga dengan puasanya. Tidak ada seorangpun yang bisa mengambil pahala puasanya, pahala puasanya disimpan di sisi Alloh. Atau bisa jadi dikatakan bahwa pahala puasa tidak berjatuhan dengan qishosh dan sebagainya, pahalanya tetap ada bagi pelakunya sampai ia masuk surga. (Lathoif Al-Ma’arif (hal. 268-276).

Di Antara Sebab Pahala Amalan Dilipat Gandakan :

1. Keutamaan amalan itu sendiri.
2. Kemuliaan tempat terjadinya amalan.
3.Kemuliaan waktu terjadinya amalan.
4. Bagusnya keislaman orang yang beramal, ketakwaannya, dan dekatnya kepada Alloh.
5. Kadar keikhlasan niat.
6. Adanya kebutuhan akan terjadinya amalan itu.

Pahala puasa bulan Romadhon sungguh besar, karena pahala puasa itu sendiri dilipat gandakan, lalu terjadi di bulan Romadhon, bulan yang mulia, kemudian Alloh jadikan puasa bulan Romadhon sebagai salah satu rukun islam. (Jami’ul Ulum wal Hikam /213-214, 260 dan Lathoif Alma’arif /269-271).

Abu Hafsh Bin Isa
 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *