Bolehkah Wanita Beri’tikaf?

Disyari’atkan i’tikaf bagi wanita dengan dua syarat

  1. Izin suaminya

Karena seorang isteri tidak boleh keluar rumah kecuali dengan seizin suaminya. Telah disebutkan bahwa Aisyah radhiyallahu anha meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, demikian pula Hafshah dan Zainab, mereka meminta izin kepada Nabi untuk i’tikaf.

Faedah: Jika seorang isteri diizinkan suaminya untuk i’tikaf, apakah sang suami boleh menyuruh isterinya untuk keluar dari i’tikafnya?

  • Jika i’tikaf sang isteri termasuk sunnah, maka suami boleh menyuruhnya agar keluar dari i’tikafnya. Hal ini berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Aisyah meminta izin untuk i’tikaf, lalu diikuti pula oleh Hafshah dan Zainab. Nabi khawatir jika isteri-isterinya tidak ikhlas dalam i’tikaf mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam khawatir mereka melakukannya hanya untuk mendekat kepada beliau saja, disebabkan kecemburuan mereka. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

البِرُّ أَرَدْنَ بِهذا مَا أَنَا بِمُعْتَكِفٍ

“Apakah kebaikan ini yang kalian inginkan? Aku tidak akan melakukan I’tikaf.” (HR. AlBukhori 2045 dan Muslim 1172)

  • Jika i’tikaf isterinya wajib (misalnya karena nadzar), maka ada dua perincian:

Pertama: Jika nadzarnya berturut-turut (misalnya: Saya bernadzar untuk i’tikaf di sepuluh hari terakhir), maka sang suami tidak boleh menyuruh isterinya keluar dari i’tikafnya.

Kedua: jika isterinya bernadzar untuk i’tikaf yang tidak mensyaratkan hari yang berturut-turut, maka suami boleh menyuruh isterinya keluar dari i’tikafnya. Kemudian sang isteri boleh melanjutkan lagi i’tikafnya setelah itu, hingga terpenuhi apa yang ia nadzarkan.

  1. Tidak menimbulkan fitnah

Seorang wanita boleh i’tikaf selama tidak menimbulkan fitnah. Jika i’tikafnya dapat menimbulkan fitnah, baik terhadap diri si wanita itu sendiri atau terhadap kaum laki-laki, maka wanita tersebut harus dicegah, dan tidak diperbolehkan melakukan i’tikaf. Hal ini berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang melarang para isterinya dari melakukan i’tikaf dengan alasan yang lebih rendah dari timbulnya fitnah, sebagaimana yang telah dikemukakan dalam hadits Aisyah.

 

Disalin dari buku “Panduan praktis puasa, shalat Tarawih, Lailatul Qadar, I’tikaf, Zakat Fitrah, ‘Idul Fitri, ‘Idul Adh-ha, & Kurban” Penyusun, Ade Ichwan Ali, Pustaka Ibnu Umar, Bogor.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *