Menjaga Tauhid Dan Menutup Pintu Kesyirikan

Abu Dawud berkata di dalam Sunannya (no. 2042):
حدَّثنا أحمدُ بنُ صالح: قرأتُ على عبدِ الله بنِ نافع قال: أخبرني ابنُ أبي ذئبٍ، عن سعيدٍ المقبري، عن أبي هُريرة -رضي الله عنه- قال: قال رسولُ الله -صلَّى الله عليه وسلم-: ((لا تجعلوا بيوتَكُم قُبوراً، ولا تجعلُوا قَبْرِي عِيداً! وصلُّوا عليَّ؛ فإن صلاتكُم تُبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُم))

“Ahmad bin Sholih telah memberi tahukan kepada kami, ia berkata: aku membaca di hadapan ‘Abdulloh bin Nafi’: ia berkata: Ibnu Abi Dzi”b telah memberi kabar kepadaku, dari Sa’id Al-Maqburi, dari Abi Hurairoh Rodhiallohu ‘anhu berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan! Dan jangan jadikan kuburanku sebagai (tempat) ‘id! Dan bersholawatlah atasku; sesungguhnya sholawat kalian sampai kepadaku di manapun kalian berada”.

‘Abdulloh bin Nafi’, salah seorang rowi dalam isnad di atas -sebagaimana dalam Taqrib At-Tahdzib (no. 3683)-: “Tsiqoh (dipercaya), Shohihul-Kitab (riwayatnya shohih jika meriwayatkan dari kitabnya), Fi hifdzihi lin (hafalannya sedikit lemah)”.
Sebagian ahli hadits memandang isnad ini shohih, sebagian ahli hadits memandang isnad ini hasan, dikarenakan rowi di atas.

Cicit (Ahlul Bait) Mengikuti Jejak Kakek.

Suhail bin Abi Suhail berkata: ” Al-Hasan bin Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib melihatku berdiam diri lama di sisi/dekat kuburan Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam, lalu ia memanggilku, dan ia sedang makan malam di rumah Fathimah (binti Al-Husain), serta berkata: “mari kesini makan malam!”, Aku jawab: “aku tidak ingin makan malam”, kemudian ia bertanya: “apa yang kamu perbuat di sisi kuburan Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam?, aku jawab: “aku memberi salam kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam”, ia berkata: “jika kamu masuk masjid ucapkan salam”, ia melanjutkan: “sesungguhnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam besabda: “jangan jadikan kuburanku sebagai (tempat) ‘id! Dan jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan! Dan bersholawatlah atasku; sesungguhnya sholawat kalian sampai kepadaku di manapun kalian berada”. Ia (Al-Hasan) melanjutkan: “kamu (di Madinah sini) dan orang yang di Andalus sama (sholawatnya sampai)”. [Mushonnaf ‘Abdur-Rozzaq (3/577 no. 6726), Fadhlush-Sholah ‘Alan-Nabiyyi (hal. 40-41, no. 30), Hadits ‘Ali bin Hujr (no. 48), Sunan Sa’id bin Manshur (Iqtidho” Shirothol Mustaqim 2/661-662) Tarikh Dimasyq (13/62)] .

Makna Hadits

لا تجعلوا بيوتَكُم قُبوراً

“jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan”!
Maknanya:
1. Jangan kubur mayat di rumah.
2. Jangan jadikan rumah seperti kuburan, yaitu tidak diisi dengan ibadah kepada Alloh seperti: sholat, baca Al-Qur’an, dan lain-lain; karena kuburan bukan tempat ibadah-ibadah ini

ولا تجعلُوا قَبْرِي عِيداً

“Dan jangan jadikan kuburanku sebagai (tempat) ‘id”!
Maknanya: jangan berulang kali mendatangi kuburan beliau seperti tempat yang disyariatkan dalam Islam untuk dikunjungi berulang kali, maka ini dilarang, kalau kuburan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, makhluk termulia saja dilarang diperlakukan seperti itu apalagi kuburan lain.
Al-Munawi berkata: “dan disimpulkan dari hadits ini bahwa berkumpulnya orang-orang di sebagian kuburan wali pada hari atau bulan tertentu, dan mereka mengatakan: ini hari kelahiran Syaikh, dan mereka makan dan minum, bahkan kadang mereka menari di tempat itu merupakan hal yang dilarang oleh syariat…”.
Oleh karenanya beliau shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda setelahnya:

وصلُّوا عليَّ؛ فإن صلاتكُم تُبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ

“Dan bersholawatlah atasku; sesungguhnya sholawat kalian sampai kepadaku di manapun kalian berada”
Maknanya: bersholawat tidak harus berada di dekat/ di sisi kuburanku, tetapi bersholawatlah atasku dimanapun kalian berada; karena sholawat kalian sampai kepadaku dimanapun tempat kalian, agar tidak disangka bahwa sholawat tidak sampai kecuali harus berada di samping kuburan beliau.

 

diringkas dari pelajaran Syarh Sunan Abu Dawud Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad dengan sedikit tambahan dari Iqtidho’ Shirothol Mustaqim (2/662,665-740), Tahdzib As-Sunan (2/730), Fathul Qodir (4/199), ‘Aunul Ma’bud (6/23).
Abu Hafsh bin Isa
Madinah, 22 Jumadal Ula

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *