Kewajiban Orang Fakir Dan Miskin

Ada beberapa hal yang wajib diperhatikan oleh orang-orang yang ditakdirkan Allah sebagai orang fakir dan miskin. Di antaranya adalah:

  1. Wajib Mengimani Qadha dan Qadar serta Wajib Meyakini Bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Adil dan Maha Bijaksana dalam setiap Perkara yang Ditakdirkan-Nya

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla meletakkan setiap perkara pada tempatnya. Karena, Dialah Allah Yang Maha Mengetahui kondisi makhluk-Nya, Maha Mengetahui akibat-akibat yang timbul kepada mereka, Dia-lah yang menciptakan kita dan Dia juga Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik dan terburuk untuk hamba –Nya. Bisa jadi seorang manusia senang terhadap suatu perkara, misalnya kekayaan, tidak berjihad di jalan Allah ‘Azza wa Jalla namun itu mudharat (bahaya) untuk dia. Dan sebaliknya bisa jadi dia benci atau tidak senang terhadap suatu perkara, misalnya kemiskinan atau berjihad di jalan Allah, namun perkara itu baik untuk dia. Maka dari itu Allah Shubhaanahu wa Ta’aalaa menyebutkan dalam Al-Qur’an,

… وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئًا وَ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَ عَسَى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئًا وَ هُوَشَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَ أَنْتُمْ لَاتَعْلَمُوْنَ. [216]

“… Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 2016)

  1. Sabar Atas Ujian Yang Menimpa

Jangan sampai dia marah atau tidak ridha dengan takdir Allah ‘Azza wa Jalla. Dan hendaknya dia mengeluhkan kemiskinannya kepada Allah Shubhaanahu wa Ta’aalaa sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an tentang Nabi Ya’qub ‘Alaihissalaam,

قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوْا بَثِّى وَ حُزْنِى إِلَى اللهِ وَ أَعْلَمُ مِنَ اللهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ [86]

“Dia (Ya’qub) menjawab, ‘Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Yusuf : 86)

  1. Jangan Melihat Kepada Orang Yang Lebih Kaya

Tetapi hendaklah dia melihat ke bawah, kepada orang yang lebih fakir dan lebih miskin daripadanya. Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam memerintahkan untuk melihat kepada orang-orang yang dibawah (melihat kepada orang-orang yang lebih miskin darinya, melihat kepada orang-orang yang tidak mempunyai rumah, tidak punya kendaraan, melihat kepada orang yang gajinya lebih kecil, atau kondisi kesehatannya lebih parah dari dia, dan lainnya, supaya dia mensyukuri nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya), agar dia tidak menyepelekan/meremehkan nikmat Allah ‘Azza wa Jalla (seperti penghasilan, kesehatan, rumah, dll) yang telah Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepadanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَ لَا تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat kepada orang yang berada di atasmu karena yang demikian itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (Shahih: HR. Al Bukhari (no. 6490), Muslim (no. 2963 (9)), at-Tirmidzi (no. 2513), dan Ibnu Majah (no. 4142), ini lafazhnya, dari Abu Hurairah radhiayallahu ‘anhu).

  1. Jangan Meminta-Minta Kepada Orang Lain, Kecuali Karena Sangat Terpaksa

Dari Qabishah bin Mukhariq Al-Hilali radhiayallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: (1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti, (2) seseorang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! Adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram.” (Shahih: HR. Muslim (no. 1044), Abu Dawud (no. 1640), Ahmad (III/477, V/60), an-Nasa’i (V/89-90), ad-Darimi (I/396), Ibnu Khuzaimah (no. 2359, 2360, 2361, 2375), Ibnu Hibban (no. 3280, 3386, 3387-At-Ta’liiqaatul Hisaan), dan selainnya).

  1. Senantiasa Beribadah, Berdo’a dan Memohon Kepada Allah Shubhaanahu wa Ta’aalaa Rahmat, Rezeki, dan Karunia-Nya

Allah Shubhaanahu wa Ta’aalaa berfirman,

“Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah hanyalah berhala-berhala, dan kamu membuat kebohongan. Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki dari Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-‘Ankabuut : 17)

Dan hendaklah berdo’a,

اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَ عَمَلًا مُتَقَبَّلًا.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.” (Shahih: HR. Ahmad (VI/322), Al-Humaidi (I/143, no. 299), Ibnu Majah (no. 925), dan lainnya, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhaa).

اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ وَ رَحْمَتِكَ، فَإِنَّهُ لَا يَمْلِكُهَا إِلَّا أَنْتَ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan rahmat-Mu, karena tidak ada yang memilikinya kecuali hanya Engkau.” (HR. Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa’ (V/41, no. 6244) dan ath-Thabrani. Lihat Majma’uz Zawaa-id (X/159), Shahiihul Jaami’ (no. 1278) dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1543).

  1. Menjauhkan Diri Dari Cara-Cara Yang Haram Dalam Memperoleh Rezeki

Ini tidak diperbolehkan. Dan janganlah orang miskin terburu-buru untuk menjadi kaya karena dikhawatirkan dia menjual agamanya untuk mendapatkan kekayaan!! Seorang Muslim wajib meyakini bahwa rezeki sudah ditakdirkan oleh Allah. Dan kita wajib mencarinya dengan cara yang halal dan tidak boleh dengan cara yang haram dan maksiat.

Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam,

“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Malaikat Jibril) membisikkan ke dalam hatiku: bahwa sesungguhnya jiwa seseorang tidak akan meninggal dunia sebelum ajalnya sempurna dan rezekinya disempurnakan, maka perbaikilah dalam mencari rezeki, janganlah keterlambatan datangnya rezeki membawa seseorang di antara kalian untuk mencari rezeki itu dengan cara bermaksiat kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Ta’aalaa, apa yang ada di sisi-Nya tidak bisa diraih kecuali dengan mentaati-Nya.” (Shahih: HR. Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa (X/26, no. 14382), dari Shahabat Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 2085)).

  1. Bekerja Dengan Jujur, Amanah Dan Sungguh-Sungguh

Allah Shubhaanahu wa Ta’aalaa berfirman,

وَ الَّذِيْنَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ [8]

“Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al Mukminuun : 8)

  1. Menjauhi Sifat Malas Dan Faktor-Faktornya

Firman Allah Shubhaanahu wa Ta’aalaa,

هُوَالَّذِيْنَ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِرِّزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ [15]

“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al Mulk : 15)

  1. Tawakkal Hanya Kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan Tidak Bersandar Kepada Sebab Rezeki

Jika seorang yang miskin sudah berusaha atau kerja, kemudian dia mendapatkan pekerjaan, usaha atau dagang, maka janganlah sekali-kali dia bersandar kepada sebab pekerjaan, usaha, atau dagangannya, karena rezeki adalah dari Allah.

Allah Shubhaanahu wa Ta’aalaa berfirman,

“… Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sungguh, Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq : 2-3)

  1. Memiliki Sifat Qana’ah (Ridha Dan Puas Dengan Apa Yang Allah Karuniakan)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ.

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberikan rezeki yang cukup, dan dia merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya.” (Shahih: HR. Muslim (no. 1054) dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhu).

  1. Tidak Hasad Terhadap Orang Lain

Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa berfirman,

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An Nisaa’ : 32)

  1. Pandai Dalam Mengatur Harta Dan Hemat

Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa berfirman,

“… Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan …” (QS. Al Israa’ : 26-27)

  1. Selalu Bersyukur Dan Bertakwa Kepada Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa

Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa berfirman,

“Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibraahiim : 7)

  1. Jangan Memperturutkan Hawa Nafsu Untuk Berutang

Jiwa seorang Mukmin akan tergantung sampai dibayarkan utangnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ.

“Jiwa seorang mukmin itu tergantung kepada utangnya hingga dibayarkan utangnya.” (Shahih: HR. Ahmad (II/440, 475, 508), At Tirmidzi (no. 1078-1079), ad-Darimi (II/262), Ibnu Majah (no. 2413), dan al Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 2417), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 6779) dan Hidaayatur Ruwaat (III/181, no. 2846)).

  1. Ingat, Bahwa Hidup ini Adalah Ujian

Allah Shubhanallahu wa Ta’aalaa memberikan ujian kepada manusia berupa harta, kekayaan, kesehatan, kefakiran, kemiskinan, penyakit, dan lainnya. Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa berfirman,

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al Anbiyaa’ : 35)

Tentang ayat ini, Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan maksiat, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibni Jariir ath-Thabari (IX/26, no. 24588), cet. I, Daarul Kutub al-‘Ilmiyah-Beirut, th. 1412 H).

 

Oleh : Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas dalam Kiat-Kiat Islam Mengatasi Kemiskinan dengan perubahan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *