Apakah Kesyirikan Sudah Lenyap?

Abu Dawud berkata di dalam Sunannya:
حدَّثنا سليمانُ بنُ حربٍ ومحمد بنُ عيسى، قالا: حدَّثنا حمّادُ بنُ زيد، عن أيّوبَ، عن أبي قِلابة، عن أبي أسماء، عن ثوبانَ -رضي الله عنه- قال:

قال رسولُ الله -صلَّى الله عليه وسلم-: ((… ولا تقومُ السَّاعةُ حتى تَلْحَقَ قبائلُ مِن أُمتي بالمشركينَ، وحتى تَعبُدَ قبائلُ مِن أُمَّتي الأوثانَ
“Sulaiman bin Harb dan Muhammad bin Isa telah memberi tahukan kepada kami, mereka berdua berkata: Hammad bin Zaid telah memberi tahukan kepada kami, dari Ayyub, dari Abi Qilabah, dari Abi Asma”, dari Tsauban Rodhiallohu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “… dan kiamat tidak tegak kecuali beberapa kabilah dari umatku menyusul kaum musyrikin, dan beberapa kabilah dari umatku menyembah sesembahan selain Alloh …”. (HR. Abu Dawud no. 4252).
Isnad hadits ini shohih.

“beberapa kabilah dari umatku menyusul kaum musyrikin”, yaitu menyusul bergabung dengan mereka di tempat tinggal mereka dan mengikuti agama mereka sehingga murtad dan menjadi kaum musyrikin seperti mereka. (Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid 1/667, Fathul-Majid hal. 305, Syarh Syaikh Sholih bin ‘Abdillah bin Hamd Al-‘Ushoimi kitab Tauhid dalam Barnamaj Muhimmatil-‘Ilm).

“beberapa kabilah dari umatku menyembah sesembahan selain Alloh” maknanya jelas. Dalam riwayat Abu Bakr Al-Barqoni dalam Mustakhrojnya atas Shohih Muslim (sebagaimana dalam Al-Jam’ Bainash-Shohihain 3/535):
وَحَتَّى يعبدَ فِئامٌ من أمتِي الْأَوْثَان
“dan beberapa kelompok dari umatku menyembah sesembahan selain Alloh”.

Ternyata kesyirikan masih ada, realita yang bisa dilihat dengan mata kepala dan tidak bisa dipungkiri, bahkan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam telah menegaskan hal ini lebih dari empat belas abad lalu, dan ucapan beliau merupakan wahyu dari Alloh.

Hadits ini bantahan bagi orang-orang yang mengingkari adanya kesyirikan di tengah-tengah umat ini, dikarenakan kebodohan mereka tentang hakekat tauhid dan syirik.
Al-Bukhari pun mencantumkan salah satu bab dalam Shohihnya berbunyi:
بَابُ تَغْيِيرِ الزَّمَانِ حَتَّى تُعْبَدَ الأَوْثَانُ

“bab: perubahan zaman sampai awtsan (sesembahan selain Alloh) disembah”. (Shohih Al-Bukhari, Kitab Al-Fitan 9/58).

Kemudian beliau membawakan sebuah hadits dari Abu Hurairoh Rodhialohu ‘anhu:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَضْطَرِبَ أَلَيَاتُ نِسَاءِ دَوْسٍ عَلَى ذِي الخَلَصَةِ)) وَذُو الخَلَصَةِ طَاغِيَةُ دَوْسٍ الَّتِي كَانُوا يَعْبُدُونَ فِي الجَاهِلِيَّةِ

“bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “kiamat tidak tegak kecuali dubur wanita-wanita kabilah Daus bergoyang (seiring dengan semangatnya mereka beribadah dan thowaf) di sekitar Dzil-Kholashoh”. Dzul-Kholashoh adalah berhala sesembahan kabilah Daus yang mereka sembah pada masa jahiliah dulu”. (HR. Al-Bukhari no. 7116 dan Muslim no. 2906).

Oleh karenanya, dakwah tauhid dan memperingatkan umat dari kesyirikan dan bahayanya sangat penting, agar manusia memahami tauhid yang dibawa oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dengan benar dan menjauhi kesyirikan.

Menghapus Anggapan Kontradiksi Antara Hadits-Hadits Di Atas dan Hadits: Setan Telah Putus Asa Dari Upaya Menjatuhkan Manusia Ke Jurang Kesyirikan.

Ternyata terdapat hadits yang menunjukkan bahwa setan telah putus asa dari usahanya agar manusia terjatuh ke jurang kesyirikan, hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohihnya (no. 2812) dari Jabir Rodhiallohu ‘anhu berbunyi:
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: ((إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ)).

“aku mendengar Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “sesungguhnya setan telah putus asa dari (usahanya agar) ia disembah oleh orang-orang yang menegakkan sholat di Jazirah Arab, tetapi (ia tetap berusaha) untuk menimbulkan bentrok pertikaian (kekacauan) di antara mereka”.
Apakah benar hadits ini bertentangan dengan hadits diatas?

Jawabannya tentu tidak.

perlu digaris bawahi bahwa hadist-hadits valid tidak bertentangan satu dengan yang lain, walaupun secara sekilas orang yang membacanya melihatnya sebagai kontradiksi.
Para Ulama tidak berselisih bahwa kesyirikan terjadi di tengah-tengah umat ini berdasarkan hadits-hadits di atas (hadits Tsauban dan hadits Abu Hurairoh Rodhiallohu ‘anhuma), adapun hadits Jabir Rodhiallohu ini maka para Ulama memiliki beberapa sisi makna tentangnya, di antaranya yang lebih kuat ialah dua makna di bawah ini:

1. Setan putus asa dari usahanya agar seluruh penduduk Jazirah Arab tanpa terkecuali terjatuh ke jurang kesyirikan dan kekufuran sehingga semuanya murtad. Tentu ini tidak terjadi, adapun sebagian atau beberapa kelompok manusia dan kabilah terpeleset ke lembah kesyirikan sehingga murtad dan Islam tetap tegak dengan adanya kaum muslimin yang masih berada di atas tauhid maka ini terjadi.

2. Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam memberi kabar tentang putus asa yang terjadi pada diri setan ketika ia melihat negeri-negeri takluk di bawah kekuasaan kaum muslimin, dan banyak manusia berbondong-bondong masuk Islam pada waktu itu, tetapi ini tidak berkonsekuensi bahwa kesyirikan dan peribadatan kepada selain Alloh tidak akan terjadi lagi, karena dugaan setan tersebut ternyata meleset dan tidak sesuai dengan kenyataan selanjutnya yang ada, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits-hadits shohih di atas (hadits Tsauban dan Abu Hurairoh Rodhiallohu ‘anhu).
Diringkas dari:
أحاديث العقيدة التي يوهم ظاهرها التعارض في الصحيحين: 1/232-238

Abu Hafsh bin Isa
Madinah, 8 Jumadal Ula 1438

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *