Apakah Ulil Amri Yang Wajib Ditaati Hanya Yang Berhukum Dengan Kitabullah?

Benarkah pemahaman diatas??

Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

يقودكم بكتاب الله … ما أقام فيكم كتاب الله

Yang membimbing kalian dengan kitabullah… Selama ia menegakkan kitabullah bagi kalian”.

Itu i’rob-nya adalah sifat atau haal. Nah, sifat/haal itu sendiri tidak selamanya berarti muqayyidah (membatasi pengertian dari isim yg disifati/dijelaskan keadaannya), akan tetapi bisa pula berarti sifatun kaasyifah (sekedar menjelaskan tanpa bermaksud membatasi). Dan yang jenis kedua ini bisa dikenali bilamana fungsinya menjelaskan sifat yang biasa dijumpai pada isim tersebut.

Jika demikian kondisinya, maka sifat ini tidak punya mafhum mukhaalafah yang mu’tabar. Ini kaidah usul fiqih. Contohnya dalam ayat,

لا تأكلوا الربا أضعافا مضاعفة

Janganlah kalian memakan riba yg berlipat ganda” (QS. Ali Imran : 130).

Tidak berarti bahwa riba yang tidak berlipat ganda (sepertt bunga bank) boleh dimakan. Karena sifat/haal ‘berlipat ganda’ di sini bukan sifat/haal muqayyidah, tapi sifat/haal kaasyifah yang menjelaskan bahwa kebanyakan model riba yang ada saat ayat ini turun adalah riba berlipat ganda ala jahiliyyah.

Sumber: http://muslim.or.id/29260-apakah-ulil-amri-yang-wajib-ditaati-hanya-yang-berhukum-dengan-kitabullah.html

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *