Aku ingin Kaya (1)

Kelapangan harta merupakan karunia dan nikmat dari Allah Subhanahu wata’ala Yang Maha Kaya. Kekayaan dapat dikatakan menjadi impian dan harapan banyak insan. Pada dasarnya Allah telah meberikan kunci sebagai petunjuk agar manusia mengikutinya. Kunci agar mendapatkan kelapangan rezeki sudah dijelaskan terang benderang dalam Al Qur’an dan Hadits, diantaranya:

  1. Beriman dan beramal Sholih. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

فَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia. (QS.Al-Haj: 50).

” Firman Allah Subhanahu wata’ala dalam ayat lainnya:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا () وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“ Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS. At Tholaq: 2-3).

  1. Tawakkal atau menyandarkan segala urusan hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sebagaimana sabda nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam,

عن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ إِنَّهُ سَمِعَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Dari Umar bin Khoththob radhiyallahu anhu, bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-sebenarnya tawakkal, niscaya Dia akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rizki kepada seekor burung yang pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. at-Tirmidzi & Ibnu Majah).

  1. Sabar, karena kesabaran merupakan pintu kelapangan dan kemudahan, sebagaimana Firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-Zumar 10).

  1. Do’a, karena do’a juga merupakan pintu kebaikan dunia dan akhirat dan Allah Subhanahu wata’ala tidak akan menyia-nyiakan do’a hambaNya. Diantara do’a yang terdapat dalam Al-Qur’an:

    ((وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيرُ الرَّازِقِينَ))

Beri rizkilah kami, dan Engkaulah Pemberi rizki Yang Paling Utama.” (QS. Al-Maidah: 114).

Bagi seseorang yang terlilit hutang dan kesusahan untuk melunasinya, hendaknya dia berdo’a dan meminta kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan sungguh-sungguh. Diantara do’a yang diajarkan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagaimana kisah riwayat Imam At-Tirmidzi bahwa ada seorang budak mukatab (yang berjanji pada tuannya ingin memerdekakan diri dengan dengan syarat melunasi pembayaran tertentu) mendatangi Ali rodhiyallahu ‘anhu, kemudian ia berkata, “Aku tidak mampu melunasi untuk memerdekakan diriku.” Ali rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Maukah kuberitahukan kepadamu beberapa kalimat yang telah diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam kepadaku yang seandainya engkau memiliki utang sepenuh gunung, maka Allah Subhanahu wata’ala akan memudahkanmu untuk melunasinya. Ucapkanlah doa,  اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal sehingga aku tidak membutuhkan yang haram, dan berilah aku kekayaan sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain selain diri-Mu. (HR. Tirmidzi)

Hendaknya ketika seorang hendak berhutang, maka dia harus berniat akan membayar hutangnya, dengan demikian dia akan diberi rizki serta pertolongan oleh Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana hadist yang dibawakan oleh Imam Bukhori dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (( مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ))

Barangsiapa yang mengambil harta orang dengan maksud mengembalikannya, maka Allah akan (menolong) untuk mengembalikannya. Dan barangsiapa yang mengambilnya dengan maksud merusaknya, maka Allah akan merusaknya.”

Sebagaimana riwayat Imam Ahmad dari Aisyah rodhiyallahu ‘anhaa bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((مَا مِنْ عَبْدٍ كَانَتْ لَهُ نِيَّةٌ فِى أَدَاءِ دَيْنِهِ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنٌ))

“Tidaklah seorang hamba yang memiliki niat untuk membayar utangnya kecuali Allah akan menolongnya.”

Diriwayatkan pula oleh Imam an-Nasa’I dari Maimunah rodhiyallahu ‘anhaa bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

( مَا مِنْ أَحَدٍ يدانُ دَيْنًا فَعَلِمَ اللَّهُ أَنَّهُ يُرِيدُ قَضَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا )

Tidaklah seseorang berhutang dan Allah mengetahui bahwa dia akan membayar hutangnya kecuali Allah akan melunasi untuknya (menolongnya dalam pelunasan) didunia.

Bersambung…

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *