Kisah Ahli Ibadah dan Khomr

‘Abdur-Rozzaq meriwayatkan di dalam Mushonnafnya (6/236-237 no. 17060) dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abu Bakr bin ‘Abdur-Rohman bin Al-Harits bin Hisyam, dari ayahandanya, ia berkata: aku mendengar ‘Utsman bin ‘Affan berkhutbah di hadapan orang-orang, ia berkata:

اجْتَنِبُوا الْخَمْرَ؛ فَإِنَّهَا أُمُّ الْخَبَائِثِ! إِنَّ رَجُلَا مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانَ يَتَعَبَّدُ وَيَعْتَزِلُ النِّسَاءَ، فَعَلِقَتْهُ امْرَأَةٌ غَاوِيَةٌ، فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ أَنِّي أُرِيدُ أَنْ أُشْهِدَكَ بِشَهَادَةٍ، فَانْطَلَقَ مَعَ جَارِيَتِهَا، فَجَعَلَ كُلَّمَا دَخَلَ بَابًا أَغْلَقَتْهُ دُونَهُ، حَتَّى أَفْضَى إِلَى امْرَأَةٍ وَضِيئَةٍ، وَعِنْدَهَا بَاطِيَةٌ فِيهَا خَمْرٌ، فَقَالَتْ: ((إِنِّي وَاللَّهِ مَا دَعَوْتُكَ لِشَهَادَةٍ، وَلَكِنْ دَعَوْتُكَ لِتَقَعَ عَلَيَّ، أَوْ لِتَشْرَبَ مِنْ هَذَا الْخَمْرَ كَأْسًا، أَوْ لِتَقْتُلَ هَذَا الْغُلَامَ، وَإِلَّا صِحْتُ بِكَ وَفَضَحْتُكَ)) فَلَمَّا أَنْ رَأَى أَنْ لَيْسَ بُدٌّ مِنْ بَعْضِ مَا قَالَتْ قَالَ: ((اسْقِينِي مَنْ هَذَا الْخَمْرِ كَأْسًا)) فَسَقَتْهُ، فَقَالَ: ((زِيدِينِي كَأْسًا)) فَشَرِبَ فَسَكِرَ، فَقَتَلَ الْغُلَامَ وَوَقَعَ عَلَى الْمَرْأَةِ، فَاجْتَنِبُوا الْخَمْرَ! فَوَاللَّهِ لَا يَجْتَمِعُ الْإِيمَانُ وَإِدْمَانُ الْخَمْرِ فِي قَلْبِ رَجُلٍ إِلَّا أَوْشَكَ أَحَدُهُمَا أَنْ يُخْرِجَ صَاحِبَهُ.

“Jauhilah khomr, sesungguhnya ia adalah Ummul Khobaits, dahulu kala ada seorang lelaki yang rajin ibadah dan menjauhkan diri dari wanita, lalu ada seorang perempuan nakal yang jatuh cinta kepadanya, kemudian ia mengutus budak perempuanya kepada lelaki tersebut memintanya agar bersaksi untuknya, akhirnya lelaki tersebut (menyanggupi dan) pergi bersama si budak perempuan itu, setiap ia masuk dari sebuah pintu si budak perempuan itu menutupnya, sampai ia bertemu dengan seorang perempuan cantik jelita, dan di sampingnya terdapat satu bejana berisi khomr, kemudian perempuan tersebut berkata: “demi Alloh, sungguh aku tidak memanggilmu untuk bersaksi, tetapi aku mengundangmu agar kamu bersetubuh denganku, atau kamu meminum satu gelas saja dari khomr ini, atau kamu bunuh anak laki-laki ini, jika kamu tidak lakukan aku akan teriak dan aku buka aibmu”, ketika lelaki ahli ibadah tersebut melihat tidak ada celah baginya untuk menghindar dari pilihan tersebut ia berkata: “tuangkan satu gelas khomr agar aku minum”, kemudian perempuan itu memberi satu gelas khomr untuk dia minum, lelaki ahli ibadah itu berkata: “tambahkan satu gelas lagi”, kemudian ia minum khomr dan mabuk, lalu ia bunuh anak laki-laki itu dan bersetubuh dengan perempuan tersebut. Maka (dari itu) jauhilah khomr. Demi Alloh, iman dan kecanduan khomr tidak berkumpul di hati seseorang kecuali salah satu di antara keduanya hampir saja mengeluarkan yang lain”.

Isnad atsar ini shohih.

An-Nasai juga meriwayatkan atsar ini di dalam As-Sunan Ash-Shughro/Al-Mujtaba (no. 5666 dan no. 5667) dan As-Sunan Al-Kubro (no. 5156 dan no. 5157) dari jalur Ma’mar dan jalur Yunus bin Yazid Al-Aili, keduanya dari Az-Zuhri dan seterusnya dari ‘Utsman bin ‘Affan dengan teks yang mirip dan senada.

Sebagian Rowi Meriwayatkannya Secara Marfu’ (Dinisbatkan kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam), Tetapi Tidak Benar.

وسُئِلَ أَبُو زُرْعَةَ عَنْ حديثٍ رَوَاهُ أَبُو خَالِدٍ الأَحمر، عَنِ محمَّد بْنُ إِسْحَاقَ، عَنِ الزُّهري، عَنِ السَّائِب بْنِ يَزِيدَ؛ قَالَ: سمعتُ عُثْمَانَ يَخْطُبُ، وَهُوَ يقولُ: يَا أَيُّهَا الناسُ، إِيَّاكُمْ والخمرَ! فإنِّي سمعتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم سَمَّاها أُمَّ الخبائثِ، ثُمَّ أَنْشَأَ يُحدِّث … وَذَكَرَ الحديثَ؟
قَالَ أَبُو زُرْعَةَ: رَوَاهُ إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، ومَعْمَر، ويونُس بْنِ يَزِيدَ، عَنِ الزُّهري، عَنْ أبي بكر بن عبد الرحمن بْنِ الْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عُثْمَانَ، مَوْقُوفًا؛ وَهُوَ الصَّحيحُ.

“Abu Zur’ah Ar-Rozi ditanya tentang hadits yang diriwayatkan oleh Abu Kholid Al-Ahmar, dari Muhammad bin Ishaq, dari Az-Zuhri, dari As-Saib bin Yazid, dia berkata: “aku mendengar ‘Utsman berkhutbah, ia berkata: wahai manusia, jauhilah khomr, sungguh aku mendengar Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wasallam menamainya Ummul Khobaits, kemudian beliau bercerita dan menyebutkan hadits?

Abu Zur’ah menjawab: hadits ini diriwayatkan oleh Ibrohim bin Sa’d, Ma’mar, dan Yunus bin Yazid, dari Az-Zuhri, dari Abu Bakr bin ‘Abdur-Rohman bin Al-Harits bin Hisyam, dari ayahandanya, dari ‘Utsman secara mauquf (dinisbatkan kepada ‘Utsman), dan inilah yang benar”. (Al-‘Ilal libni Abi Hatim 4/485-486 no. 1586).

Ad-Daruquthni berkata ketika ditanya tentang hadits/atsar ini:

يَرْوِيهِ الزُّهْرِيُّ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ أَبِيهِ، وَاخْتُلِفَ عنه
فأسنده عمر بن سعيد بن سريج، عَنِ الزُّهْرِيِّ.
وَوَقَفَهُ يُونُسُ، وَمَعْمَرُ، وَشُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ، وَغَيْرُهُمْ، عَنِ الزُّهْرِيِّ.
وَالْمَوْقُوفُ هُوَ الصَّوَابُ.
وَرُوي هَذَا الْحَدِيثُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ قَيْسٍ الْمُلَائِيِّ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عُمَارَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ عُثْمَانَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَوَهِمَ فِيهِ الْحَسَنُ فِي مَوْضِعَيْنِ: فِي رَفْعِهِ، وَفِي رِوَايَتِهِ إِيَّاهُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، وَالَّذِي قبله أصح

“Hadits ini diriwayatkan oleh Az-Zuhri, dari dari Abu Bakr bin ‘Abdur-Rohman bin Al-Harits bin Hisyam, dari ayahandanya. Kemudian ada perbedaan riwayat dari Az-Zuhri:

‘Umar bin Sa’id bin Suroij meriwayatkan dari Az-Zuhri secara musnad (dinisabatkan kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam). Yunus, Ma’mar, Syu’aib bin Abi Hamzah dan rowi lain meriwayatkan dari Az-Zuhri secara mauquf (dinisbatkan kepada ‘Utsman). Dan riwayat mauquf itulah yang benar. Dan hadits ini juga diriwayatkan dari ‘Amr bin Qois Al-Mulai, dari Al-Hasan bin ‘Umaroh, dari Az-Zuhri, dari Sa’id bin Musayyib, dari ‘Utsman, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Al-Hasan melakukan dua kesalahan dalam meriwayatkan hadits: 1. Meriwayatkannya secara marfu’ (dinisbatkan kepada Nabi shollalohu ‘alaihi wasallam). 2. Menjadikan hadits ini dari riwayat Sa’id bin Musayyib.

Dan yang sebelumnya (riwayat kebanyakan rowi = mauquf dari jalur Abu Bakr, dari ayahandanya) itulah yang lebih benar. (‘Ilal Ad-Daruquthni 3/41-42 no. 274).

Abu Hafsh bin Isa

Madinah, 5 Jumadal Akhiroh 1438.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *