Ada apa pada bulan Rajab? (bagian 2 selesai)

TENTANG PERAYAAN ISRA’ MI’RAJ

Kebanyakan manusia merayakan Isra’ Mi’raj pada tanggal 27 Rajab, padahal para ulama Islam telah berselisih tentang waktunya hingga menjadi lebih dari sepuluh pendapat, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani رَحِمَهُ اللهُ  dalam kitabnya, Fat-hul Baari. (Fat-hul Baari (VII/242) cet. Daar ar-Rayyan lit Turaats).

Al-Hafizh Ibnu Katsir رَحِمَهُ اللهُ  menyebutkan dari az-Zuhri dan ‘Urwah bahwa Isra’ Mi’raj terjadi setahun sebelum Nabiصَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ  hijrah ke Madinah, yaitu pada bulan Rabi’ul Awwal.

Imam as-Suddi رَحِمَهُ اللهُ  berpendapat bahwa waktunya adalah 16 bulan sebelum hijrahnya Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ  ke kota Madinah, yaitu pada bulan Dzul Qa’dah.

Adapun al-Hafizh ‘Abdul Ghani bin Surur al-Maqdisi رَحِمَهُ اللهُ  dalam kitab Sirahnya membawakan sebuah hadits tentang keutamaan bulan Rajab bahwasanya Isra’ Mi’raj yang terjadi pada malam ke-27 bulan Rajab, namun sanad riwayat tersebut tidak shahih.

Dan sebagian manusia menyangka bahwa Isra’ Mi’raj itu terjadi pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab, yaitu tepat di malam Raghaa-ib, dimana pada malam tersebut sebagian manusia mengerjakan suatu shalat yang masyhur tetapi tidak ada asalnya. (Lihat al-Bidayah wan Nihayah (III/127), cet. Daar Ibnu Hibbaan).

Imam Abu Syamah رَحِمَهُ اللهُ  menegaskan, “Sebagian tukang cerita menyebutkan bahwa Isra’ Mi’raj itu terjadi pada bulan Rajab. Padahal hal itu menurut para ahli hadits merupakan kedustaan yang sangat nyata. (Al-Baa’its ‘ala Inkaril Bida’ wal Hawaadits (hlm. 171).

Namun, meskipun benar bahwa Isra’ Mi’raj itu terjadi pada tanggal 27 Rajab, bukan berarti waktu tersebut harus dijadikan perayaan. Bagi orang yang tidak mengikuti hawa nafsunya tidak akan ragu bahwa hal tersebut termasuk perkara yang diada-adakan dalam Islam. Sebab, perayaan tersebut tidaklah dikenal di zaman Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ, di masa para Shahabat, bahkan di masa Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in.

Syaikh ‘Abdul bin Baaz رَحِمَهُ اللهُ mengatakan, “Malam Isra’ Mi’raj tidak diketahui waktu terjadinya. Sebab, seluruh riwayat tentangnya tidak ada yang shahih menurut para ahli memang diketahui waktunya, kaum Muslimin tetap tidak boleh mengkhususkannya dengan ibadah dan perayaan. Sebab, hal itu tidak pernah dilakukan Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan para Shahabatnya. Seandainya disyari’atkan, pastilah Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ telah menjelaskannya kepada ummat ini, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan…” (At-Tahdziir minal Bida’ (hlm. 9).

TENTANG MENGKHUSUSKAN BERPUASA DI BULAN RAJAB

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Adapun mengkhususkan berpuasa di bulan Rajab, seluruh haditsnya lemah dan palsu. Para ahli ilmu tidak menjadikannya sebagai sandaran sedikit pun.” (Majmuu’ Fataawaa (XXV/290).

Imam as-Suyuthi رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Mengkhususkan bulan Rajab dengan berpuasa adalah dibenci. Imam asy-Syafi’i رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Aku membenci apabila seseorang menyempurnakan puasa sebulan penuh seperti puasa Ramadhan. Demikian pula mengkhususkan suatu hari dari hari-hari lainnya…” (Al-Amru bi Ittibaa’ (hlm. 174).

Setelah menyebutkan atsar-atsar diatas, Imam ath-Thurthusi رَحِمَهُ اللهُ mengatakan, “Atsar-atsar ini menunjukkan pengagungan manusia terhadap bulan Rajab sekarang ini adalah sisa-sisa peninggalan zaman Jahiliyyah dahulu. Walhasil, dibenci berpuasa di bulan Rajab. Apabila seseorang dalam keadaan yang aman, yaitu apabila manusia telah mengetahui dan tidak menganggapnya wajib maupun sunnah, maka hukumnya tidak mengapa.” (Al-Hawaadits wal Bida’ (hal. 141-142).

 

MENGADAKAN SEMBELIHAN KHUSUS DI BULAN RAJAB

Dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

لَا فَرَعَ وَ لَا عَتِيْرَةَ.

“Tidak ada fara’ dan ‘atirah.”

(Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 5473, 5474) dan Muslim (no. 1976).

 

Dalam riwayat lain, Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

لَا عَتِيْرَةَ فِي الْإِسْلَامِ وَ لَا فَرَعَ.

“Tidak ada ‘atirah dan fara’ di dalam Islam.”

(Shahih: HR. Ahmad (II/229).

 

‘atirah adalah sembelihan yang biasa dilakukan di masa Jahiliyyah pada bulan Rajab untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada patung-patung mereka. (Fat-hul Baari (VIII/598).

Washollallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala ‘aalihi washohbihi wasallam

Dikutip dari buku Ritual Sunnah setahun karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas dengan sedikit perubahan.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *