Ada apa pada bulan Rajab? (bagian 1)

Rajab adalah salah satu dari bulan-bulan haram(tidak diperbolehkan berperang), yaitu bulan yang memiliki keutamaan dan bulan yang diagungkan sejak zaman Jahiliyyah.

Definisi bulan Rajab

Rajab secara bahasa diambil dari lafazh, رجب الرجل رجابا, maksudnya mengagungkan dan memuliakan. Rajab adalah nama sebuah bulan. Disebut Rajab, sebab orang-orang dizaman Jahiliyyah sangat mengagungkan bulan ini, yaitu dengan tidak membolehkan berperang dibulan tersebut. (Qamuush al-muhith (I/65, Mu-assasah al-Mukhtaq) dan Lisanul ‘arab (I/411,422, cet. Daar Shaadir).
Allah subhanahu wata’ala berfirman:

((إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ))

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa. (QS. At-Taubah: 36)

Al-Hafizh Ibnu Katsir Rohimahulloh menjelaskan bahwa bulan Rajab termasuk bulan yang memiliki keutamaan, yaitu bahwa diharamkannya (berperang) di bulan Rajab –bulan yang berada ditengah tahun- supaya memudahkan orang-orang yang berada dipinggiran jazirah Arab apabila mereka ingin mengadakan perjalanan untuk umroh atau ziarah ke Baitulloh, dan mereka kembali ke negerinya dalam keadaan aman. (Tafsiir al-Qur-aanil ‘Azhiim (IV/148)).

‘Umar bin al-Khahthab Rodhiyallahu ‘anhu pernah memukul tangan-tangan manusia (yang berpuasa sunnah) pada bulan Rajab supaya mereka meletakkan tangan mereka di piring. Lalu ‘Umar berkata: “Makanlah oleh kalian, sebab sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang diagungkan oleh orang-orang Jahiliyyah. (Atsar shahih: diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-mushannaf (II/345), dari Kharasyah bin Hurr, Atsar ini dishahihkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Majmuu’ al-fataawaa (XXV/291) dan Syaikh al-Bani dalam Irwaa-ul Ghalill (no.957)).

Tentang Ritual Shalat Raghaa-ib

Imam Ibnul Qayyim Rohimahulloh mengatakan, “Setiap hadits yang menyebutkan tentang puasa dibulan Rajab, juga untuk mengerjakan shalat disebagian malamnya, semuanya adalah dusta. (Al-manarul Munif (hlm.96), tahqiq ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah).

Shalat Raghaa-ib adalah shalat 12 raka’at yang dilaksanakan pada malam Jum’at pertama dibulan Rajab, tepatnya antara shalat Maghrib dan shalat Isya dengan didahului berpuasa pada hari Kamis. Pada setiap raka’atnya membaca surah Al-Fatihah sekali, surat Al-Qadar sebanyak tiga kali dan surah Al-Ikhlas sebanyak dua belas kali.

Asal dari pensyari’atan shalat Raghaa-ib adalah sebuah riwayat dari sahabat Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu yang dibawakan oleh Imam al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin (I/203) dan beliau menamainya dengan Shalat Rajab, seraya berkata, “Ini adalah shalat yang disunnahkan”.

Demikianlah perkataan Imam al-Ghazali –semoga Allah memaafkan kesalahannya- padahal para ulama ahli hadits telah sepakat bahwa hadits-hadits tentang shalat Raghaa-ib adalah maudhu’ (palsu).

Imam ibnul Jauzi Rohimahulloh mengatakan, Ini (hadits shalat Ragahaa-ib) adalah palsu, didustakan atas nama Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wasallam. Para ulama mengatakan hadits ini dibuat-buat oleh seorang yang bernama Ibnu Juhaim. Dan saya mendengar syaikh (guru) kami ‘Abdul Wahhab al-Hafizh berkata, Para perawinya majhul (tidak dikenal), aku telah memeriksa seluruhnya dalam setiap kitab, namun aku tidak mendapatinya. (al-Maudhu’aat (II/125), cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahulloh berkata, “Shalat Raghaa-ib adalah perkara yang diada-adakan menurut kesepakatan para Imam agama ini, tidak disunnahkan oleh Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wasallam, tidak pula oleh seorang pun dari khalifahnya, serta tidak dianggap baik oleh ulama panutan, seperti Imam Malik, asy-Syafi’I, Ahmad, Abu Hanifah, Sufyan ats-Tsauri, al-‘auza’I, al-Laits, dan sebagainya. Adapun hadits tentang shalat Raghaa-ib tersebut adalah hadits dusta menurut kesepakatan para pakar hadits. (Majmuu’ Fatawaa (XXIII/133-134).

Imam adz-Dzahabi Rohimahulloh mengatakan ketika menceritakan biografi Imam Ibnu Shalah Rohimahulloh, “Beliau memiliki satu permasalahan yang tidak selaras dengan kaidah-kaidah yang beliau buat sendiri, dimana beliau telah ganjil didalamnya, yaitu dalam masalah shalat Raghaa-ib, beliau menguatkan dan mendukungnya padahal kebhatilan hadits tersebut tidak diragukan lagi. (siyar A’lamin Nubalaa’ (XXIII/143, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah).

Imam Ibnul Qayyim Rohimahulloh mengatakan, “Juga hadits-hadits tentang shalat Raghaa-ib pada malam Jum’at diawal bulan Rajab, seluruhnya dusta dan dibuat-buat atas nama Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam.( Al-manarul Munif (hlm.95), tahqiq ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah).

Al-‘Allamah asy-Syaukani Rohimahulloh mengatakan, “Maudhu’! para perawinya Majhul (tidak dikenal). Dan inilah shalat Raghaa-ib yang populer , para ahli telah sepakat bahwasanya haditsnya Maudhu’ (palsu). Kepalsuannya tidak diragukan lagi, hingga oleh seorang yang baru belajar ilmu hadits sekalipun. Al-Fairuz Abadi mengatakan bahwa haditsnya maudhu’ menurut kesepakatan , demikian pula yang dikatakan oleh al-Maqdisi. (Fawai’dul Majmuu’ah (hlm. 47-48)).

Imam asy-Syuthi Rohimahulloh berkata: “ ketahuilah –Semoga Allah merahmatimu-, bahwasanya mengagungkan hari dan malam (Jum’at pertama pada bulan Rajab) ini merupakan perkara yang diada-adakan dalam Islam, yang bermula setelah 400 H. Hadits tentang masalah ini adalah maudhu’ (palsu) menurut kesepakatan para Ulama. Riwayat tersebut intinya tentang keutamaan puasa dan shalat pada bulan Rajab yang disebut dengan shalat Raghaa-ib. Menurut pendapat para ulama ahli, dilarang mengkhuskan hari ini dengan puasa dan (mengkhususkan) malamnya dengan shalat Raghaa-ib ini serta (dilarang) segala jenis pengagungan pada hari ini; seperti membuat makanan, menampakkan perhiasan, dan sejenisnya. Supaya bulan ini tidak ada bedanya seperti bulan-bulan lainnya. (al-Amru bil Ittiba’ (hlm. 166-167).

Dikutip dari buku Ritual Sunnah setahun karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas dengan sedikit perubahan.

Sumber gambar: http://www.clipartbest.com/cliparts/KTn/ozn/KTnoznkGc.jpeg

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *