Yang Di atas atau Yang Di Bawah ?

Kehidupan di dunia ini memang beraneka ragam, si A penghasilan perbulan 3 juta, si B penghasilan perbulan 5 juta, si C penghasilan perbulan tidak tentu alias naik turun. Si A dinilai 9 bentuk rupanya, si B dinilai 7.5, si C dinilai mepet 5, dan sebagainya, namanya juga dunia, begitu pula dengan tingkat ketaatan dan ibadah para hamba bermacam-macam, si A rajin puasa sunnah, si B rajin sedekah, si C rajin nangis di kegelapan malam, si D mencukupkan yang wajib saja, si E masih compang camping sholatnya, dan sebagainya.

Pertanyaannya bagaimana kita menyikapi keberagaman di atas?, lebih baiknya kita mencerna dengan baik hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh Rodhiallohu ‘anhu berikut:

(إذا نظر أحدكم إلى من فضل عليه في المال والخلق, فلينظر إلي من هو أسفل منه ممن فضل عليه) متفق عليه.

و في رواية لمسلم: (أنظروا إلى من أسفل منكم, ولاتنظروا إلي من هو فوقكم, فهو أجدر أن لاتزدروا نعمة الله عليكم).

“jika salah satu dari kalian melihat orang yang dilebihkan harta dan bentuknya dari padanya, hendaknya ia melihat orang yang di bawahnya”.

Dalam salah satu riwayat Muslim: “Lihatlah orang yang di bawah kalian, dan jangan lihat orang yang di atas kalian, karena yang demikian lebih menjadikan kalian tidak meremehkan nikmat Alloh yang diberikan kepada kalian”, (HR. Al Bukhori no. 6490, dan Muslim no. 2963).

Abul ‘Abbas Al Qurthubi Rohimahulloh berkata ketika mengomentari hadits ini: “ambillah pelajaran dari orang yang di bawah kalian dalam hal harta, bentuk rupa, dan keselamatan (kesehatan), maka akan nampak bagi kalian nikmat Alloh atas kalian, sehingga kalian bersyukur kepadaNya dan menjalankan hak nikmat tersebut, berbeda jika ia melihat orang yang di atasnya, maka nikmat Alloh atasnya akan mengecil dalam pandangannya, ia meremehkannya, tidak menganggapnya sebagai nikmat, kemudian melupakan hak Alloh dalam nikmat tersebut, dan bisa jadi menjadikan ia membuka matanya selebar mungkin untuk (melihat) dunia, sehingga berlomba dengan orang-orang (yang diberikan) dunia, sangat menyesal merasa rugi jika tidak mendapatkannya, serta memiliki hasad terhadap mereka, dan itulah kebinasaan di dunia dan akherat”. (Al Mufhim 7/116).

Abu Zur’ah Al Iroqi Rohimahulloh ketika memberikan penjelasan tentang hadits ini beliau berkata: “… dengan disebutkannya harta dan bentuk rupa (pada hadits di atas) maka permasalahannya berbeda jika seseorang melihat orang yang dilebihkan dari padanya dalam hal ilmu, agama, kesungguhan beribadah, dan perbaikan diri dengan menjauhi akhlak yang jelek serta berakhlak yang mulia, dalam hal ini ia hendaknya melihat orang yang di atasnya agar mengambil contoh darinya, tidak melihat orang yang di bawahnya, karena dengan itu ia akan bermalas-malasan, berbeda dengan perihal pertama (harta dan bentuk rupa), dalam hal tersebut ia tidak melihat kepada orang yang di atasnya, karena menyebabkan ia meremehkan nikmat Alloh atasnya dibandingkan dengan nikmat Alloh atas orang yang dilebihkan harta dan bentuk rupanya, dan sepatutnya ia melihat orang yang di bawahnya, supaya mengetahui berharganya nikmat Alloh atas dirinya, ini merupakan adab baik yang diajarkan oleh Nabi kita shollallohu ‘alaihi wasallam kepada kita, dan di dalam (adab) tersebut ada maslahat buat agama, dunia, akal dan badan kita serta adanya ketentraman bagi hati kita, semoga Alloh membalas beliau atas nasehatnya dengan sebaik-baik balasan bagi seorang Nabi”. (Thorhut Tatsrib Fi Syarhit Taqrib 8/145).

Sungguh hadits yang agung, sarat dengan makna kebaikan, semoga kita bisa mengambil petunjuk dan adab dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam ini dalam kehidupan kita, sehingga kita bisa menjadi hamba Alloh yang lebih baik, amiiinn…..

Abu Hafsh bin Isa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *