Siapakah Mereka yang Beruntung?

Banyak diantara kita mengira bahwa seseorang dengan harta kekayaan yang melimpah ruah, memiliki rumah dan kendaraan mewah, serta terpenuhinya segala keinginan di dunia adalah orang yang beruntung.

Namun sesungguhnya tidaklah demikian. Karena bergelimangnya harta tidak menjamin seseorang itu mampu bertaqwa kepada Allah Ta’ala. Justru mereka berlomba-lomba mengejar ambisi dunia sehingga lalai dari akhirat, bahkan melupakan misi penciptaan manusia di muka bumi. Hal itu membuat Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wasallam khawatir, saat manusia terlena dengan nikmat dunia yang Allah berikan seluas-luasnya. Mereka bekerja banting tulang menhabiskan waktu sehari-harinya untuk mencukupi keinginan dan mengenyangkan hawa nafsu. Sesungguhnya mereka takut kepada kemiskinan dan kefakiran. Padahal, kefakiran bukanlah sesuatu yang ditakutkan oleh Rosululloh shallallaahu alaihi wasallam pada ummatnya, sebagaimana sabdanya:

فَوَ اللهِ، مَا الفَقْرَ أَخْشَي عَلَيْكُمْ. وَ لَكِنِّي أَخْشَي عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا َعَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَي مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ. فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَ تُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan pada diri kalian. Akan tetapi, aku mengkhawatirkan dunia akan dibentangkan untuk kalian sebagaimana dunia telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian akan berlomba-lomba mencari dunia sebagaimana mereka telah berlomba-lomba. Lalu hal itu akan membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. Muslim no. 2961).

Bila bukan mereka yang bergelimang harta, lalu, siapakah mereka yang beruntung? Yakni mereka yang mampu bersabar duduk dalam majelis-majelis Ilmu walaupun dunia tidak dalam genggamannya. Mereka bersabar dan khusyuk dalam bermajelis, melupakan dan menyingkirkan sementara dunia dan kebahagiaannya yang semu. Menelaah dan mengkaji ilmu dengan sungguh-sungguh dan semangat yang menggebu. Kemudian dari sanalah, ketenangan dan ketentraman hati turun meliputi mereka, bahkan seluruh binatang yang ada di laut dan darat pun turut memintakan ampunan Rabb Yang Maha Tinggi untuk mereka.

Karena itu, sungguh beruntunglah teman-teman dari Yayasan Amal Ikhlas yang dapat mengkaji ilmu rutin setiap senin sampai jum’at mulai ba’da maghrib hingga isya. Materi kajian pun beragam, mulai Tahsin, Tahfidz, Tafsir Al Qur’an, Syarah Ushulus Tsalasah, Bahasa Arab, Hadits Arba’in An Nawawi, dan lain sebagainya. Majelis ilmu ini dibimbing langsung oleh Ustadz Syafrudin selaku da’i perwakilan Yayasan Penata Amanah Selaras yang berada di Kelurahan Binongko, Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor, NTT.

Semoga kedepannya mereka akan menjadi penerus dakwah di pelosok Indonesia wilayah timur, agar syiar Islam semakin luas berkembang. Aaminn

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *